SENAYANPOST - Dinamika perekonomian global yang terus diguncang oleh ketidakpastian, menuntut Indonesia untuk segera melakukan evaluasi mendasar terhadap kompas strategi pembangunan nasionalnya.
Mengandalkan pertumbuhan ekonomi semata tanpa memperkokoh fondasi sektor riil domestik, dinilai hanya akan menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap gejolak eksternal.
Indonesia kini didorong untuk berani mengambil langkah taktis, berpindah dari zona pertumbuhan tinggi yang semu menuju sebuah tatanan ekonomi baru yang mandiri dan berdaulat.
Pandangan strategis tersebut dikemukakan oleh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB), sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto.
Baca Juga: Dasco Tegaskan Pertemuan Prabowo dan Chatib Basri Murni Bahas Strategi Ekonomi
Dalam analisisnya, ia mengibaratkan pengelolaan ekonomi sebuah negara layaknya taktik dalam memenangkan pertandingan olahraga besar.
"Dalam dunia sepak bola, kemenangan sering kali ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Ketika pola permainan lama tidak lagi efektif, pelatih melakukan penyesuaian taktik, mengganti pemain, bahkan mengubah formasi untuk mengejar hasil yang lebih baik," ujar Agus Herta Sumarto dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Agus, logika analogi sepak bola tersebut berlaku sepenuhnya dalam konteks pembangunan ekonomi saat ini.
Ketika lingkungan global bergeser secara ekstrem dan berbagai kelemahan struktural yang lama mulai terlihat ke permukaan, sebuah negara dituntut untuk berani mengevaluasi strategi yang selama ini dijalankan.
"Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan bahwa pembangunan mampu menjawab tantangan masa depan," tegas Ekonom INDEF tersebut.
Agus membeberkan, catatan kritis mengenai perjalanan ekonomi Indonesia selama beberapa dekade terakhir.
Ia tidak menampik bahwa strategi pembangunan nasional masa lalu, terbukti sukses mencetak angka pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut menyimpan kerentanan besar karena dibangun di atas asumsi yang kurang kokoh mengenai integrasi pasar global.
"Selama puluhan tahun Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi global pada akhirnya akan membawa bangsa ini menuju kemakmuran. Sebagian keberhasilan memang tercapai. Namun semakin sering dunia diguncang krisis, semakin jelas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi," jelasnya secara rinci.