SENAYANPOST - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui efisiensi anggaran, penajaman sasaran penerima manfaat, serta optimalisasi sumber daya yang tersedia.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan dampak maksimal bagi masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala BGN, Nanik S Deyang, dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pusat BGN, Jakarta, Kamis (4/6).
Kegiatan itu sekaligus menjadi momentum awal konsolidasi jajaran pimpinan baru BGN dalam menyusun arah kebijakan dan strategi pelaksanaan program ke depan.
Menurut Nanik, prioritas utama BGN saat ini adalah memastikan setiap anggaran yang digunakan mampu memberikan manfaat optimal bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi gizi.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami melakukan penataan pelaksanaan program agar kualitas layanan dapat terus ditingkatkan," ujar Nanik.
Perkuat Sistem Pengawasan dan Integrasi Data
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan penguatan tata kelola akan dilakukan melalui peningkatan sistem pengendalian internal, integrasi data, validasi informasi, serta pengembangan sistem yang lebih terukur dan akuntabel.
"Kami akan memperkuat integrasi data dan sistem informasi agar setiap kebijakan dapat didukung oleh data yang valid. Selain itu, berbagai rekomendasi dari lembaga pengawas akan menjadi bagian dari upaya penyempurnaan tata kelola yang sedang kami lakukan," kata Agustina.
Baca Juga: Kasus Korupsi MBG, Kejagung Jemput Paksa Tiga Eks Pejabat BGN
Ia menegaskan bahwa tata kelola yang baik harus ditopang oleh sistem yang kuat agar pelaksanaan program dapat berjalan secara transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
Dalam penajaman sasaran program, BGN juga akan memperkuat intervensi terhadap kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok tersebut dinilai menjadi kunci dalam upaya pencegahan stunting serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.***