SENAYANPOST – Pengamat Politik sekaligus Aktivis PMII, Surya Fermana, menilai rangkaian serangan negatif yang ditujukan kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya merupakan upaya pelemahan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut fenomena ini sebagai strategi serangan tidak langsung atau indirect attack untuk melumpuhkan pusat kekuasaan.
Menurut Surya, sosok Letkol Teddy memiliki peran yang sangat krusial di lingkaran dalam istana karena posisinya sebagai pemegang rahasia presiden. Hal ini menjadikannya target utama bagi pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas pemerintahan saat ini.
"Serangan terhadap Prabowo tapi tidak langsung, ke Letkol Teddy. Itu kan sebenarnya mau melumpuhkan Prabowo, tapi dengan strategi indirect," ujar Surya Fermana.
Ia menjelaskan bahwa jabatan sekretaris secara etimologis berasal dari kata secrecy yang berarti rahasia. Oleh karena itu, seorang Seskab merupakan orang kepercayaan yang memegang kendali atas kerahasiaan tugas-tugas kenegaraan dan pemerintahan.
Baca Juga: Hendropriyono Bantah Isu Seskab Teddy Ditampar Jenderal Kopassus: Itu Hoaks dan Tidak Pernah Ada
Surya menambahkan bahwa posisi tersebut membuat Seskab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi sang kepala negara. Secara fungsional, posisi ini dianggap sebagai perpanjangan tangan atau ekspansi dari diri presiden itu sendiri.
"Karena apa, Letkol Teddy inilah yang memegang rahasia Prabowo, rahasia pemerintahan. Karena apa, sekretaris ini kan dari kata secresi, rahasia. Artinya orang yang memegang rahasia presiden," tuturnya.
Lebih lanjut, Surya menyoroti munculnya isu perpecahan atau fragmentasi yang sengaja diembuskan untuk merusak citra institusi TNI, khususnya Kopassus. Ia melihat ada upaya sistematis untuk mengadu domba para petinggi militer dengan orang-orang di lingkaran kekuasaan.
Salah satu isu yang disorot adalah rumor mengenai gesekan internal atau pemukulan yang melibatkan perwira di jajaran baret merah. Surya menilai narasi tersebut sengaja diciptakan untuk melemahkan tiga simbol penting negara secara sekaligus.
"Sengaja ini digesek untuk melemahkan tiga simbol yaitu, TNI, Kopassus, dan kepresidenan. Ini namanya black propaganda, adu domba, presiden diadu domba dengan orang-orang di lingkaran kekuasaan dia," jelasnya.
Strategi propaganda hitam ini dianggap bertujuan untuk meruntuhkan wibawa kepemimpinan nasional melalui isu-isu yang bersifat personal dan provokatif. Dengan menyerang orang terdekat, pihak tertentu berharap kekuatan politik Presiden Prabowo akan ikut ambruk.
Meskipun demikian, Surya meyakini bahwa upaya provokasi tersebut tidak akan berhasil menggoyahkan soliditas internal pemerintah. Menurutnya, hubungan antara elemen TNI dan lingkaran kepresidenan saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat kuat.
"Prabowo, Kopassus, dan Letkol Teddy ini solid, tidak akan bisa dilemahkan dengan isu propaganda murahan begini," tegas Surya dalam keterangannya. *