SENAYANPOST - Belum lama ini warga menemukan drone bawah laut Tiongkok di Selat Lombok.
Temuan tersebut sudah diamankan oleh pihak terkait sekaligus menjadi perhatian bagi Jakarta untuk memperkuat kemampuan pertahanan bawah lautnya.
Menurut para analis, kemungkinan besar Indonesia akan tetap bungkam mengenai temuan tersebut dan memilih untuk menyelesaikannya lewat 'diplomasi senyap'.
Minggu lalu, seorang nelayan Indonesia menemukan kendaraan bawah laut tak berawak (UUV) China di Selat Lombok, jalur air utama menuju Australia.
Drone yang ditandai dengan huruf 'CSIC' ini diduga terkait dengan China Shipbuilding Industry Corporation, dan menunjukkan aktivitas bawah laut tanpa izin di salah satu koridor maritim terpenting Indonesia.
Baca Juga: Konflik AS dan Iran Memanas, Rizal Mallarangeng: Rusia dan Tiongkok Tak Akan Turun Tangan Militer
Terletak di antara Bali dan Lombok, jalur air ini diawasi ketat oleh Australia dan Amerika Serikat.
Penemuan ini terjadi di tengah persaingan maritim regional yang semakin intensif di mana perangkat tak berawak telah melakukan pemetaan dasar laut secara diam-diam dan pengumpulan intelijen akustik.
Alfin Febrian Basundoro, seorang dosen junior hubungan internasional di Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan penemuan tersebut menyoroti kelemahan kemampuan militer Indonesia dalam melakukan patroli bawah laut dan sensor bawah lautnya yang tidak memadai.
"Saat ini, Indonesia hanya memiliki empat kapal selam, yang tidak cukup untuk memantau wilayah maritimnya yang luas secara efektif," kata Alfin pada 16 April 2026, dikutip SenayanPost.com dari South China Morning Post.
Di Asia Tenggara, hanya empat negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Vietnam – yang memiliki kemampuan pertahanan bawah laut.
Baca Juga: BYD Resmikan Di-Space: Museum Sains Kendaraan Listrik Pertama di Tiongkok
"Ini menggambarkan ketidakseimbangan militer yang signifikan antara Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia," kata Alfin.