nasional

Sebut Kyai Zulfa Jembatan Islah Konstitusional, Aktivis Muda NU Singgung Kebangkitan Ilmuwan

Rabu, 10 Desember 2025 | 12:33 WIB
Zulfa Mustofa (NU Online)

SENAYANPOST — Penunjukan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU memantik perhatian besar di tengah memanasnya dinamika internal organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di kalangan muda NU, keputusan ini langsung dibaca sebagai fase krusial: bukan sekadar penenang situasi, tetapi jembatan islah konstitusional yang bisa menentukan arah NU ke depan.

Aktivis Muda NU, Rikal Dikri, menilai kehadiran Kyai Zulfa bukan “garis finish”, melainkan “ruang transisi” yang harus diperlakukan serius. Baginya, jabatan Pj Ketum adalah posisi penyangga yang menuntut ketenangan, konsolidasi, dan keberanian untuk mengembalikan NU ke rel aturan main.

“Yang kita butuhkan saat ini adalah kembali ke konstitusi. Figur Kyai Zulfa ini adalah jembatan islah konstitusional. Tapi NU tidak boleh berhenti pada figur. NU harus bergerak menuju meritokrasi—kepemimpinan berdasarkan kemampuan,” kata Rikal kepada wartawan.

Menurut dia, NU sedang membutuhkan pemulihan kultur berorganisasi, bukan sekadar pergantian wajah. NU harus menata ulang ruang komunikasi, menyejukkan tensi, dan mengakhiri tarik-menarik kepentingan yang selama berbulan-bulan membuat organisasi terbelah.


Dukungan Kyai Ma’ruf Tersambung ke Pleno PBNU

Penunjukan Kyai Zulfa ikut menguat setelah mendapatkan dukungan moral dari sang paman, KH Ma’ruf Amin. Sebelumnya, Kyai Ma’ruf hadir langsung dalam Forum Para Kyai Mustasyar di Tebuireng, sebuah forum yang menjadi rujukan moral tertinggi di tubuh NU.

Yang menarik, sejumlah kiai yang hadir di Tebuireng juga tercatat hadir dalam Pleno PBNU di Hotel Sultan—forum yang kemudian menetapkan Kyai Zulfa sebagai Pj Ketum. Pola ini memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Kyai Zulfa tidak berdiri sendiri, melainkan tersambung ke lingkaran otoritas syuriah dan sesepuh.

Di Tebuireng, Kyai Ma’ruf memberikan dua pesan tegas yang kini menjadi rujukan penyelesaian konflik:

1. Kalau tidak ada islah, maka harus Muktamar Luar Biasa.


2. Kalau ada islah, maka cukup Muktamar biasa.

 

Dua kalimat inilah yang kemudian dibaca oleh banyak kalangan sebagai sinyal kuat:
Muktamar adalah jalan islah konstitusional.
Dan posisi Kyai Zulfa adalah jembatan untuk menuju titik itu.


Empat Mandat Kyai Zulfa: Jalan Terjal Pembersihan Struktur

Berdasarkan hasil pleno, Kyai Zulfa memikul empat tugas besar:

Halaman:

Tags

Terkini