nasional

Mantan Petinggi JI Ungkap Bahaya Penetrasi Intelijen dalam Radikalisasi Remaja, Tekankan Guru dan Orang Tua Perlu Dipahamkan Bahaya Radikalisme  

Sabtu, 22 November 2025 | 10:14 WIB
Pimred Senayan Post dan Mantan Konsul JI Jawa Timur Ust Fuadi Abu Uwais (Mush'ab Muqoddas)

 

 

SENAYANPOST – Beberapa waktu belakangan ini, Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri da Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI mengumumkan berita yang cukup menggemparkan di mana tidak sedikit remaja dan pelajar yang terpapar radikalisme. Mantan Konsul Jamaah Islamiyah Jawa Timur Ust Fuadi Abu Uwais yang terseleksi sebagai salah satu pimpinan berpengaruh di Jamaah Islamiyah setelah mendapatkan pelatihan fisik dan pembelajaran keagamaan, menyebut bahaya perekrutan teroris tanpa seleksi yang dapat memancing penetrasi kepentingan luar dengan lebih mudah dan leluasa. Simak selengkapnya dalam wawancara redaksi Senayan Post dengan Ustadz Fuadi Abu Uwais.

  

Beberapa waktu ini ditangkap sejumlah teroris dari kalangan remaja bahkan SMP, bagaimana Ustadz melihat fenomena ini ?

Jujur, melihat fenomena keterlibatan anak-anak muda yang masih SMP dalam sejumlah aktifitas terorisme, saya kira ini adalah perkara yang sangat memprihatinkan. Karena masa mud aitu adalah masa yang labil, yang secara psikologi adalah proses mencari identitas diri. Biasanya, dalam proses itu mereka ingin mencari kepastian hidup, kemudian ingin mencari sesuatu yang eksistensi dan kehadiran meraka dianggap. Sehingga mereka merindukan menjadi figur-figur hero (pahlawan). Kira-kira, sesuatu yang fenomenal yang membuat mereka menjadi Istimewa dan mudah dikenal, nah itu yang rata-rata mudah menjangkiti anak-anak muda sekarang. Termasuk aktifitas terorisme. Karena, tidak bisa dihindari ketika anak-anak muda kita sering dan banyak bermain di ranah medsos, sementara ranah medsos ini sangat rentan paparan berbagai konten dan narasi radikalisme, sangat mudah kita akses. Sementara anak mud aini, tidak memiliki kematangan dari sisi kognitif. Artinya, kemampuan untuk memfilter, mana dari narasi yang mereka dapatkan di ranah medsos itu yang layak mereka ambil, antara yang baik dan buruk. Maka sisi kognitif yang lemah itu yang dari akibat mereka hanya memiliki sisi kafaah ilmiyah yang lemah, sepadan dan cukup, sehingga mereka ketika menemukan suatu perkara yang hitam putih, mereka sambar. Dan ini yang menjadi proses kaderisasi pemikiran radikalisme itu terpelihara di dunia medsos yang menyasar anak-anak muda itu.

  

Seperti apa perbedaan kelompok terorisme dulu dan sekarang, terutama dari sisi perekrutan ?

Kalau kita melihat dari sisi rekrutmen, dari pengalaman saya sebagai mantan anggota Jamaah Islamiyah, itu sangat jauh sekali. Kalau pada masa saya terlibat di JI, kita sangat ketat, ada sekian  marhalah (jenjang) yang dibuat oleh para mudabbir (pengurus), ada kelas-kela syang dilewati. Bahkan, satu jenjang itu sampai 2 (dua) tahun lebih, sebelum diputuskan ini layak untuk berbaiat atau tidak. Itu pun setelah jadi anggota, nanti maish disekolahkan lagi, dari 6 (enam) bulan atau sampai 2 (dua) tahun, untuk eksplorasi skill, potensi apa yang dimiliki oleh si fulan, anggota baru JI ini. Baru kemudian disalurkan sesuai kemampuan yang mereka miliki.

Kemudian dibangun berdasarkan ilmu. Basis keilmuan itu yang ditanamkan. Dan kita tidak eksklusif dalam urusan keilmuan, sehingga bisa berguru kepada siapa saja, dengan prinsip bahwa kebenaran itu ada pada siapapun selama sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga, di JI itu tidak ada fanatisme harus berguru pada ustadz fulan, bisa berguru kepada siapa saja, hatta orang di luar JI sekalipun. Inklusifitas dalam sisi keilmuan itu yang membuat kami tidak merasa terkekang. Kita dapat berguru kepada ustadz-ustadz salafi, ustadz-ustadz ikhwani dan ustadz-ustadz tabligh sekalipun.

Sementara berbanding hari ini dengan proses rekrutmen yang sangat mudah, terutama di dunia medsos, saaya menyaksikan sendiri ketika tahun 2009 itu aktif di Facebook. Tiba-tiba saya direkrut dalam suatu group, digabung dengan orang-orang yang tidak pernah saya kenal. Hanya karena kita pernah saling nge-add, saya diundang untuk hadir di suatu pertemuan dalam rangka untuk melancarkan aksi (teror). Artinya, selama kopdar saja kita tidak pernah ketemu wajah dan background-nya seperti apa. Pernah saat pertemuan seperti itu, ada yang minta permen nano-nano artinya roshosh (peluru). Sampai seperti itu mereka. Artinya dari sisi itu saja kita bisa menggambarkan proses rekrutmen yang asal-asalan tidak selektif, dan itu berbahaya bagi pergerakan underground, dan potensi penetrasi intelijen asing itu ada. Bagi mereka yang mungkin biasa, tidak selektif, akhirnya mereka teradikalisasi oleh agen intelijen. Walhasil, ini yang menyebabkan paparan radikalisme di medsos itu demikian tinggi. Jadi mereka tidak selektif, tanpa berdasarkan ilmu yang cukup. Akhirnya dalam memahami suatu dalil itu mereka eksklusif tidak seperti apa yang kami rasakan.

  

Secara spesifik, apa perbedaan ISIS dan JI dari sisi rekrutmen ?

JI memiliki sistem marhalah (penjenjangan), artinya gradual dan ebrtahap. Kalau ISIS rata-rata terekrut secara isti’jal (terburu-buru) melalui medsos. Wes pokok e dadi, baiat disek (Sudah yang penting jadi, baiat dulu). Sampai ada seseorang yang terpapar pemikiran ISIS berkunjung ke rumah teman saya kemudian menyampaikan, jangan ikut Fuadi, nanti tidak dibaiat. ISIS tidak memikirkan bagaimana fase (penjenangan), sehingga bisa merekrut orang, dibaiat, aksi dan selesai. Sementara JI lebih rapid ala rekrutmen.

Halaman:

Tags

Terkini