nasional

The Last Wahid Ungkap Wirid Khusus, Ini Rahasia Keluarga Wahid Tetap Kokoh Hadapi Tantangan Segala Zaman

Rabu, 22 Oktober 2025 | 18:21 WIB

SENAYANPOST – Gus Umar Wahid, yang kini disapa sebagai The Last Wahid mengungkapkan alasan pemberian judul buku Teladan dari Rumah Ulama untuk mengenang dan mengabadikan keluarga besar KH Wahid Hasyim dan kehidupannya yang romantis dengan istrinya Nyai Solehah. Kenangan ini diceritakannya dalam bedah buku Teladan dari Rumah Ulama pada Selasa 21 Oktober 2025 di Pondok Pesantren Minggir Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipimpin oleh KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq.

Saat KH Wahid Hasyim wafat, Nyai Solehah masih berumur 31 tahun dengan 5 (lima) orang anak yaitu Abdurrahman, Aisyah, Sholah, Umar dan Lily serta tengah mengandung anak keenam yaitu Hasyim. Saat itu, ada tawaran untuk kembali ke Jombang Jawa Timur, akan tetapi ditolaknya.

“Dari awal Nyai Solehah bertekad ke Jakarta meneruskan amanat dari suaminya, salah satu pesan adalah, anak lanangku telu Durrahman, Sholah dan Umar. Yang pertama harus paham betul islam mencintai negara dan bangda, tidak perlu semuanya jadi kyai, tapi harus ada yang jadi kyai, dokter dan insinyur, dijadikan wasiat. Gur Dur jadi ulama, Sholah jadi insinyur dan saya jadi dokter,” kenangnya.

Gus Umar Wahid yang pernah menjabat sebagai ketua Asosiasi Rumah Sakid Daerah ini mengungkapkan bahwa Nyai Solehah menekankan kepada anak-anaknya untuk bermanfaat bagi masyarakat.

“Yang ditanamkan kepada kami, apapun pilihan kami harus memberikan manfaat kepada masyarakat, dan akan lebih banyak bermanfaat jika melakukannya di dalam organisasi daripada jalan sendiri-sendiri, dan mempengaruhi organisasi itu. Itu yang ditekankan,” jelasnya.

Mantan ketua tim pemenangan Andika Perkasa – Hendi dalam Pilgub Jawa Tengah 2024 lalu ini juga mengungkapkan wirid yang dibacakan oleh Nyai Solehah untuk kebaikan dan kekuatan anak-anaknya, serta dalam kondisi genting.

“Jika ingin punya anak kuat dan bermanfaat bacakan surah Al Fatihah 41 kali dari setelah Sholat Isya sampai waktu Sholat Shubuh. Jika dalam kondisi sulit bcakan Ayat ke-19 surah Al Kahfi dan ayat terakhir. Ketika membaca kata ‘yuha’ oleskan tangan ke perut anak dengan tahan nafas sebanyak 11 kali,” ungkapnya.

Gur Umar Wahid juga mengungkapkan kisah yang cukup menegangkan pada 1 Oktober 1965 yang menjadikan rumahnya di Jl Matraman No 13 sebagai kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) karena kondisi darurat.

“Sikap Ibu paling berkesan adalah pada 1 Oktober 1965. Nyai Solehah mengambil inisiatif bicara dengan Sekjen PBNU Pak Yusuf Hasyim, adik iparnya dan Pak Munashir, jika PBNU tidak bergerak, kita gerakkan. Mengambil alih PBNU, karena kantornya PBNU tutup dipindah ke rumahnya di Matraman yang saat ini adalah Griya Gus Dur. Selama 3 (tiga) bulan terbuka, siapapun masuk, di situ kami belajar dari Ibu harus peka dalam segala situasi,” kisahnya.

Pembicara lain dalam bedah buku ini adalah Gus Muwafiq sekaligus tuan rumah yang memiliki kedekatan dengan keluarga besar KH Wahid Hasyim, Ning Alissa Wahid putri Gus Dur dan Dr Imam Anshari Shaleh selaku editor. (Muqoddas).

Tags

Terkini