SENAYANPOST – Aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU), Rikal Dikri, mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk Arief Poyuono sebagai Komisaris di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Menurutnya, penunjukan ini merupakan wujud nyata meritokrasi, karena posisi strategis di perusahaan pelat merah diberikan kepada orang yang benar-benar memahami dunia kepelabuhanan dan perburuhan.
“Arief Poyuono bukan orang sembarangan. Dari kecil ia tumbuh di lingkungan Tanjung Priok, hidup di tengah denyut nadi pelabuhan, dan mengerti persoalan buruh serta dinamika pelabuhan sejak akar rumput. Jadi, kalau hari ini ia dipercaya menduduki jabatan komisaris di PT Pelindo, itu adalah keputusan yang tepat sekaligus strategis,” ujar Rikal Dikri.
Lebih lanjut, Rikal mengungkapkan bahwa Arief Poyuono punya rekam jejak akademik dan riset yang kuat. Selama 10 tahun, ia menjadi asisten peneliti untuk akademisi dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, yakni Arjan Veering, dalam proyek disertasi monumental berjudul “The History of Economy, Social and Politic in Port of Tanjung Priok and Sugar Trading in Java Sea.” Pengalaman panjang ini membuat Arief menguasai data sejarah, ekonomi, sosial, hingga politik kepelabuhanan yang jarang dimiliki tokoh lain di Indonesia.
Baca Juga: Prinsip Ekonomi Prabowo: BUMN Harus Bersih, Swasta Kuat, Koperasi Bangkit
“Bayangkan, beliau mendampingi penelitian akademik internasional selama satu dekade penuh. Itu modal intelektual yang luar biasa. Arief Poyuono bukan hanya aktivis politik, tapi juga seorang praktisi sekaligus peneliti yang memahami pelabuhan Priok dari sisi akademik, sosial, ekonomi, hingga perburuhan,” tegas Rikal.
Selain itu, Arief Poyuono juga dikenal sebagai pimpinan Federasi Serikat Pekerja BUMN. Kiprah ini membuktikan kapasitasnya dalam memperjuangkan nasib karyawan dan buruh BUMN, termasuk mereka yang bekerja di sektor pelabuhan. Menurut Rikal, kombinasi antara pengalaman lapangan, keterlibatan akademik, dan kiprah dalam organisasi buruh membuat Arief Poyuono menjadi figur yang paling layak ditempatkan di kursi komisaris Pelindo.
“BUMN strategis seperti Pelindo butuh orang yang mengerti denyut nadi buruh, paham tata kelola pelabuhan, sekaligus punya wawasan global tentang ekonomi maritim. Arief Poyuono memenuhi semua kriteria itu. Prabowo tepat sekali menempatkan ahlinya di posisi yang tepat,” tambah Rikal.
Baca Juga: Presiden Prabowo Hilangkan Bonus Tantiem Komisaris BUMN: Enak di Lo, Ga Enak di Rakyat!
Rikal juga menilai bahwa keputusan ini sekaligus menjadi jawaban bagi publik bahwa era bagi-bagi jabatan tanpa kompetensi sudah selesai. Di bawah kepemimpinan Prabowo, meritokrasi ditegakkan, dan orang-orang yang benar-benar punya kapasitas akan diberi kepercayaan untuk mengelola perusahaan besar milik negara.
“Pelindo adalah jantung logistik nasional. Kalau salah urus, maka dampaknya langsung terasa pada ekonomi rakyat. Maka komisarisnya harus orang yang berintegritas, paham buruh, paham pelabuhan, dan punya jejaring kuat. Arief Poyuono adalah representasi semua itu,” pungkas Rikal Dikri.