Studi: Gen Z Merasa Tak Nyaman Lihat Ibu Menyusui di Ruang Publik, Berkaitan dengan Privasi

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Sabtu, 9 Agustus 2025 | 17:36 WIB
Dukung ibu menyusui bareng BMHS. (Hops.ID/Ratih Nugraini)
Dukung ibu menyusui bareng BMHS. (Hops.ID/Ratih Nugraini)

SENAYANPOST - Sebagian ibu menyusui acapkali memberikan ASI kepada bayinya kapan dan di mana saja. Kendati demikian, banyak yang masih merasa tidak nyaman ketika harus menyusui di ruang publik. Perasaan risih juga sering dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Masih terdapat stigma negatif yang menempel pada ibu menyusui di tempat umum. Sebagian orang beranggapan bahwa ruang publik bukanlah tempat yang pantas untuk kegiatan tersebut.

Temuan ini diungkap studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) dalam rangka Pekan Menyusui Sedunia 2025 bertema “Persepsi dan Dukungan pada Ibu Menyusui di Tempat Umum”. Penelitian ini dilakukan secara daring dengan melibatkan 731 responden.

Pendiri dan peneliti utama HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, memaparkan responden diminta menanggapi skenario ibu menyusui di berbagai tempat, mulai dari pabrik, perkantoran, taman, transportasi umum, tempat makan, hingga kafe. Hasilnya, 1 dari 3 orang Indonesia masih memiliki pandangan negatif atau kontra terhadap ibu yang menyusui di ruang publik.

"Bukan menolak, tapi mereka punya persepsi kontra, artinya apa? Mereka secara dominan melihat bahwa ibu menyusui di tempat umum itu tidak nyaman," papar Ray kepada awak media di Jakarta, pada Sabtu, 9 Agustus 2025.

Terdapat empat persepsi negatif yang ditemukan HCC. Pertama, 29,7 persen responden merasa ibu menyusui di tempat umum membuat tidak nyaman. Kedua, 30 persen mengaku merasa gelisah saat melihatnya.

Ketiga, sebanyak 29 persen responden setuju ibu sebaiknya menyusui di tempat khusus saja.

"Bicara tempat khusus itu merujuk ke bukan tempat umum," tutur Ray dalam kesempatan yang sama.

Persepsi keempat, 50 persen responden sangat tidak setuju jika ibu menyusui di mana saja tanpa penutup atau nursing cover.

“Kenapa kita bilang ini red flag? Karena itu berarti menyusui di ruang publik masih dianggap bukan perilaku alami. Padahal secara ilmiah ini perilaku naluriah yang harus kita dukung,” ungkap Ray.

Adapun, sejumlah lokasi publik yang mendapat penolakan tertinggi antara lain transportasi umum (33,8 persen), taman atau ruang terbuka (34,6 persen), kafe (32,8 persen), dan tempat makan (30,6 persen).

“Stimulus ketika melihat ibu menyusui di KRL atau MRT bikin orang paling enggak nyaman,” terang Ray.

Ray melanjutkan, sekitar 25 persen atau satu dari empat orang merasa pemandangan tersebut mengganggu secara visual. Alasan lainnya adalah dianggap tidak sesuai tempat atau norma sosial.

Studi juga menunjukkan keresahan itu paling banyak datang dari orang di bawah usia 30 tahun, terutama generasi Z.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

3 Cara Hilangkan Kerak Toilet, Langsung Kinclong!

Selasa, 21 April 2026 | 13:30 WIB

Replika Candi Brawijaya di Kraton Majapahit Jakarta

Minggu, 19 April 2026 | 13:01 WIB
X