Indonesia di era Bung Karno dahulu adalah pemimpin de facto dari negara-negara yang baru berkembang, yang merdeka pasca Perang Dunia ke 2 sebagai suatu kekuatan raksasa internasional nonblok.
Sikap Indonesia yang rasional dan logis ketika dahulu menolak keterlibatan Israel dan Taiwan, kemudian terbukti dengan keberhasilan diikutinya Ganefo pertama pada tahun 1963 oleh 47 negara-negara nonblok.
Tetapi sikap kita sekarang sebagai negara yang bukan pemimpin dari negara-negara blok atau nonblok manapun, tidak tepat jika diklaim sebagai sikap yang mengikuti ajaran Bung Karno.
Untuk menumbuhkan kembali dan mengembangkan terus menerus rasa nasionalisme sesuai dengan ajaran Bung Karno, justru kita seharusnya menuai kemenangan demi kemenangan dalam setiap perhelatan olahraga dunia di masa kini dan dalam setiap perubahan zaman.
Baca Juga: Gagal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20, Komentar Pemain Timnas di IG Ganjar Pranowo Bikin Sedih
Bapak bangsa yang pemimpin besar revolusi bangsa Indonesia tersebut mengatakan, bahwa olahraga adalah alat pemersatu bangsa dan prestasinya merupakan tolok ukur dari kekuatan dan kedaulatan dari negara bangsa Indonesia.
Demikian pula menurut pandangan semua agama olahraga adalah penting, karena sportifitas pada hakikatnya terkait dengan kejujuran perilaku.
Seorang juara tidak dapat dimunculkan dengan jujur, jika pengikutnya hanya dirinya sendiri saja. Karena itu tidak mungkin suatu kejuaraan dunia dinilai jujur, jika tidak diikuti oleh seluruh dunia.
Pada hari Rabu yang lewat telah diputuskan bahwa rencana perhelatan piala dunia U-20 batal dilaksanakan di Indonesia, sehingga kita harus mentaatinya agar tidak menuai badai yang lebih berat kelak di kemudian hari.
Baca Juga: Reaksi Ganjar Pranowo Usai Indonesia Dicoret FIFA dari Tuan Rumah Piala Dunia U20: Ini Bukan Kiamat
Kecuali jika kita sekarang ini dapat keluar dengan kemauan sendiri dari sistem Barat yang hegemonik, untuk menyelenggarakan perhelatan piala dunia sendiri seperti yang berhasil dilakukan oleh Bung Karno dengan GANEFO pada tahun 1963.
*Guru Besar Emeritus Universitas Pertahanan RI.
Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara.
Guru Besar Sekolah Tinggi Hukum Militer.***