SENAYANPOST - Masih bahayanya penyebaran radikalisme di kawasan provinsi Jawa Timur dengan indeks potensi radikalisme di Jawa Timur turun menjadi 11,9 persen, tapi sikap menerima paham radikalisme masih mencapai 19,6 persen, sehingga potensi aksi-aksi teror di Jawa Timur cukup besar dan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), provinsi Jawa Timur masih diklasifikasi daerah merah.
Penelitian tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur. Sebagai upaya mencegah terorisme akibat meluasnya radikalisme, Ketua FKPT Jawa Timur Prof Dr Husniyatus Salamah Zainiyati MAg mengisi materi dalam rapat koordinasi wilayah (rakorwil) Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jawa Timur kawasan Kertomenanggal kota Surabaya.
"Radikalisme diawali dari intoleran, maka sebagai dai harus memunculkan toleransi di komunitas masing-masing. Dulu cara lama radikalisme tersebar melalui halaqah, sekarang melalui handphone," ajaknya.
Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini menjelaskan perkembangan radikalisasi yang semakin berbahaya saat ini akibat adanya self-radicalization melalui konten dari media sosial misal WhatsApp Group (WAG).
"Kita harus mewaspadai anak-anak. Ini lebih mudah tersulut melakukan aksi teror karena secara pemahaman telah menerima paham radikal karena Sebanyak 75 persen nitizen di Jawa timur mencari konten keagamaan di internet.” jelasnya.
Menangkal radikalisme ada tiga pilar utama yaitu hifdzun nafs (Al Maidah : 32), tasamuh (Al Baqarah : 256) dan lita’arafu (Al Hujuraat : 13)
"Mengutip pandangan KH Ahmad Dahlan yaitu Islam Berkemajuan adalah Islam yang menanamkan benih perdamaian, bukan permusuhan; sayang, bukan kebencian," pungkasnya.