nasional

Ponggawa Kraton Majaphit Jakarta Peragakan Penulisan Aksara Nusantara, Dewan Guru Besar UGM Berikan Apresiasi

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:13 WIB
Rakawi Agung Kraton Majapahit Jakarta Gusti Pangeran Aryo Saiful Rohman Suryaningrat jelaskan filsafat dan estetika Aksara Nusantara

 

SENAYANPOST – Dipimpin Rakawi Agung Kraton Majapahit Jakarta Gusti Pangeran Aryo (GPA) Saiful Rohman Suryaningrat, 8 (delapan) ponggawa memperagakan penulisan Aksara Nusantara di depan Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Peragaan penulisan Aksara Nusantara ini dilaksanakan pada Kamis 18 Juni 2026 di Kraton Majapahit Jakarta yang terletak di kawasan Cipayung Jakarta Timur.

Prof Muhammad Baiquni mendiktekan kalimat “Ketua Profesor Hendropriyono” dan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti mendiktekan “Sumpah Palapa Gajah Mada” yang kemudian dituliskan oleh 8 (delapan) ponggawa Kraton Majapahit Jakarta. Penulisan 2 (dua) kalimat tersebut mendapatkan apresiasi dari para hadirin, tidak hanya dari rombongan Dewan Guru Besar UGM akan tetapi dari sejumlah alumni UGM dan sejumlah peserta Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Adhyaksa Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang diundang hadir.

GPA Saiful Rohman Suryaningrat dalam sambutannya menjelaskan bahwa terdapat 12 rumpun aksara besar yang tercatat di Kementerian Kebudayaan, dan paling besar adalah Aksara Hanacaraka sehingga lebih mudah untuk dimodifikasi.

“Jika Aksara Hanacaraka diawali dengan huruf-huruf hanacaraka, maka huruf-huruf Aksara Nusantara dimulai dari A hingga Z. Model perwujudan dalam penulisan Aksara Nusantara adalah dari sikap ajining giri, sikap etis dan sikap ilmiah. Karena Aksara Nusantara ini merupakan impelemntasi dan mewarisi Wahyu Cakraningkat,” jelasnya.

Untuk mempermudah pembelajaran Aksara Nusantara, saat ini telah tersedia secara digital dalam font di Microsoft Office dan dapat diunduh, bahkan sudah disiapkan dalam bentuk kurikulum pembelajaran di sekolah.

“Kami telah mendigitalisasi, untuk mempermudah anak-anak muda mempelajari. Kami sudah membuat kurikulum pembelajaran untuk diajarkan di sekolah,” terangnya.

Sebelum praktik penulisan Aksara Nusantara, Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof Junaedi dan Guru Besar UGM Prof Purwadi melantuntan tembangan tentang keteladanan untuk memberikan kritik dengan santun, serta keteladanan yang diberikan Prof AM Hendropriyono dalam menghormati para gurunya. (Muqoddas)

Tags

Terkini