SENAYANPOST - Dugaan kasus razia rambut secara berlebihan, yang dialami para siswi pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Garut, Jawa Barat jadi buah bibir di media sosial.
Aksi razia rambut itu, diduga dilakukan oleh oknum guru Bimbingan dan Konseling (BK) terhadap belasan siswinya.
Dalam unggahan Instagram @sekitargarut, tampak sejumlah siswi histeris usai mendapati rambut yang telah dirawatnya dipotong secara tidak bertanggung jawab.
"Guru seharusnya mendidik dan memberi contoh perilaku yang baik," ujar salah seorang siswi.
Baca Juga: Viral Siswa SMAN 1 Purwakarta Olok-olok Guru, KDM Sarankan Hukuman Kerja Sosial daripada Skorsing
Para siswi itu juga dilaporkan sempat histeris, karena rambutnya dipotong paksa oleh oknum guru setelah mereka mengikuti pelajaran olahraga di kelas.
Tindakan razia itu diduga dilakukan, lantaran rambut para korban siswa itu diwarnai, sehingga dinilai melanggar aturan.
Kendati demikian, tindakan tersebut justru menuai kritik tajam oleh sebagian warganet di media sosial karena dianggap berlebihan dan dialami oleh para siswi yang mengenakan hijab.
Buntut dari peristiwa ini, terdapat 8 korban siswi yang mengaku dan meminta pendampingan hukum ke BEM STAINUS Garut dan pendamping hukum siswa, Asep Muhidin, SH., MH.
Menurut Asep yang sempat mendatangi UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Garut menjelaskan, ihwal kronologi kasus di SMK Garut tersebut.
"Jumlah siswa yang meminta pendampingan ada sekitar 7 sampai 8 orang," kata Asep dalam pernyataannya.
"Mereka datang ke kampus STAINUS melalui BEM untuk meminta bantuan, lalu kami diminta mendampingi secara hukum," bebernya.
Perihal itu, Asep menyebut total korban yang diduga dicukur paksa oleh oknum Guru BK itu mencapai belasan orang, meski yang saat ini didampinginya berjumlah 7 hingga 8 siswi.
Asep juga membenarkan, peristiwa itu terjadi setelah jam pelajaran olahraga di lokasi kejadian.