SENAYANPOST - Taksi Green SM menjadi sorotan usai tragedi kecelakaan KRL yang tertabrak Kereta Api Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu.
Satu unit taksi Green SM yang tertemper, diduga menjadi salah satu penyebab KRL tertabrak Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur.
Kini, manajemen Taksi Green SM melakukan audiensi dengan pihak Korlantas Polri pada Selasa, 5 Mei 2026 buntut mobilnya yang diduga jadi awal mula penyebab kecelakaan tersebut.
Audiensi tersebut lantas memantik perhatian publik, usai sebelumnya deras dugaan para pengemudi taksi Green SM perlu mendapatkan pembinaan buntut kasus ini.
Dalam kasus ini, Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho menerangkan, setiap peristiwa kecelakaan harus dilihat secara menyeluruh.
Agus menjelaskan, penyebab kecelakaan tidak hanya berasal dari faktor pengemudi atau human error, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi kendaraan, perusahaan, hingga hingga faktor jalan dan lingkungan.
"Tidak absolut kesalahan ada pada pengemudi. Bisa juga dari kendaraan atau manajemen. Bahkan korporasi bisa ikut bertanggung jawab," kata Agus dalam keterangan resminya.
Agus lantas menerangkan, dalam hal ini juga pentingnya dilakukan evaluasi terhadap kejadian kecelakaan, termasuk yang terjadi di perlintasan sebidang kereta api.
"Hasil analisis kecelakaan dapat menjadi dasar untuk memperbaiki sistem pengawasan dan tata kelola perusahaan transportasi," bebernya.
Atas insiden ini, Agus menyoroti perlu adanya sistem traffic attitude record untuk memantau perilaku pengemudi secara terintegrasi.
Agus mengakui pihaknya telah menawarkan program pelatihan ulang, bagi puluhan ribu pengemudi taksi Green SM melalui Indonesia Safety Driving Center (ISDC).
"Dari sekitar 10 ribu pengemudi, perlu ada kontrol dan pembinaan. Bisa dilatih kembali agar lebih disiplin dan patuh," tegas Agus.
Sementara itu, menurut Denny Gunawan, Direktur Taksi Green SM mengakui, pihaknya masih mempunyai sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, terutama dalam pembinaan pengemudi.