Oleh Kiyai Asnawi Ridwan (Alumni Pondok Pesantren Lirboyo dan Pengasuh Pesantren Fasihuddin Sawangan Depok)
Islam adalah agama yang menghargai perbedaan pendapat. Tidak saja antar sahabat, antara guru dan murid saja diperbolehkan berbeda pendapat dan bahkan berseberangan. Kita bisa menyimak perbedaan pendapat antara Imam Malik sebagai guru dengan Imam Syafii sebagai murid, Imam Syafii sebagai guru dengan Imam Ahmad bin Hambal sebagai murid, dan masih banyak teladan yang lain dalam sejarah perbedaan pendapat guru murid di antara para ulama salaf as-shalih.
Para ulama pesantren, di antaranya Lirboyo, memiliki sambung sanad genealogi ke para ulama salaf as-shalih khususnya Imam as-Syafii sebagai imam mazhab yang diikutinya tidak hanya substansi pemikiran fikih dan ushul fikihnya saja, tetapi juga diikuti akhlak dalam prilaku kesehariannya di antaranya cara menyikapi perbedaan pendapat.
Perbedaan pendapat antar ulama ini terjadi karena Islam agama yang merestui ijtihad. Sehingga, jika ada yang suka memaksakan kehendak dan pendapatnya maka sejatinya ia sedang menentang kebebasan berpendapat yang direstui dalam Islam dan menutup pintu ijtihad yang oleh Islam sudah dibuka lebar-lebar.
Para ulama salaf biasa dan absah berdebat dan berbeda pendapat dalam aspek yang paling fundamental dan sensitif yaitu tentang pemikiran agama dan keagamaan. Apalagi sekedar persoalan duniawi seperti soal organisasi PBNU dan politik, maka jauh lebih absah.
Perbedaan pendapat tidak berarti identik dengan tidak hormat dan suul adab (etika yang buruk). Perdebatan dan perbedaan pendapat dengan tetap hormat adalah nilai luhur yang hidup dalam keseharian pesantren Lirboyo. Hal ini tercermin dalam tradisi musyawarah kitab dan musyawarah bahtsul masail yang syarat perdebatan dan silang pendapat.
Keragaman sebagai Identitas Kultural
Kalau melihat dari aspek genealogi dan epistemologis pemikiran, maka boleh dibilang keragaman adalah identitas kultural Lirboyo. Genealogi yang tersambung kepada Imam Syafii yang berbeda pendapat dengan Imam Malik sebagai gurunya, dan perbedaan di antara ulama pengikut madzhab Syafii yang terrekam dalam kitab kuning yang diaji di Lirboyo, di antara tokoh yang paling menonjol yang biasa disebut dengan ashabu as-Syafii ialah Imam al-Muzani, Imam al-Nawawi, Imam al-Rafii, Imam al-Ramli, Imam Ibnu Hajar al-Haytsami, Imam Jalaluddin al-Suyuthi, dan yang lainnya.
Dari aspek epistemologi pemikiran, Lirboyo mengajarkan kitab al-Mahally Qulyubi wa ‘Umairah yang di dalamnya berisi penjelasan fikih yang di setiap persoalannya terdapat khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara ashab as-Syafii (pengikut madzhab Syafii) atau perbedaan pendapat di internal madzhab Syafii dan kadang sedikit melipir ke pendapat ulama di luar madzhab Syafii.
Dari aspek realitas, saya ingat betul dulu waktu Mbah KH. Maemon Zubair seorang ulama besar alumni Lirboyo yang memilih istiqamah di partai PPP. Sedangkan mayoritas kiyai masyayikh Lirboyo memilih PKB. Ada juga para kiyai alumni Lirboyo yang memilih partai selain PPP dan PKB. Hal yang sama terjadi ketika Mbah Maimoen Zubair mufaraqah dengan PBNU di saat dipimpin oleh Gus Dur. Pada saat yang sama para kiyai masyayikh Lirboyo tetap membersamai dan mengokohkan PBNU yang dipimpin Gus Dur.
Dari peristiwa-peristiwa itu menunjukkan kedewasaan masyayikh kiyai Lirboyo dalam menyikapi perbedaan dan tidak ada pemaksaan kehendak dan pandangannya terhadap alumninya. Para kiyai masyayikh Lirboyo memberi kebebasan kepada para alumninya untuk memilih pilihannya sendiri dalam menyikapi NU dan politik. Berbeda tapi saling menghormati. Indahnya keragaman. Dan Lirboyo menjadi payung besar bagi para alumninya yang sangat beragam itu.
Saat ini perbedaan kembali terjadi dalam menyikapi pemecatan Gus Yahya dari ketua Tanfidziyah PBNU oleh Rois Am dan jajaran Suriyah. Sebagian para tokoh dan kiyai alumni Lirboyo bersetuju dan mendukung pemecatan Gus Yahya dan mengokohkan supremasi Suriyah. Di antaranya KH. Anwar Iskandar, KH. Musthofa Aqil Sirodj, KH. Imam Jazuli, KH. Fakhrurozi, KH. Abdul Muiz Syaeruzi, KH. Jamaluddin Mohammad, KH. Dr. Faiq Ihsan Nashori, Ustadz Mohammad Sirojuddin, dan masih banyak tokoh alumni Lirboyo lain yang mendukung pemecatan Gus Yahya. Tetapi sebagian yang lain mendukung penyelesaian dengan cara islah dan mengembalikan lagi jabatan ketua umum tanfidziyah kepada Gus Yahya.
Kalau mengacu pada sejarah, maka perbedaan pendapat menyikapi soal pemecatan Gus Yahya, sebagian alumni Lirboyo mendukung pemecatan dan sebagaian alumni tidak mendukung dengan memilih jalur islah adalah pengulangan sejarah dan butuh kedewasaan seperti para masyayikh Lirboyo terdahulu dengan Mbah KH. Maemoen Zubair.
Determinasi Personal dan Institusional