nasional

PTBA Dihantam Kritik: Klaim Hijau vs Realita Bisnis Batu Bara

Kamis, 25 September 2025 | 20:44 WIB
Penambangan Batu Bara yang Kerap Menimbulkan Pro Kontra Transisi Energi Hijau (Pinterest)

SENAYANPOST — Di tengah gencarnya kampanye transisi energi bersih, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih sulit melepaskan diri dari ketergantungan pada batu bara.

Perusahaan pelat merah ini menargetkan net zero emission 2060 dan mengklaim berhasil menekan emisi karbon hingga 305 ribu ton CO₂e pada 2024 melalui efisiensi energi dan reklamasi lahan bekas tambang. PTBA juga menyiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Ombilin dan Tanjung Enim berkapasitas 100–200 MWp.

Namun, laporan think tank energi bersih Ember pada 2024 menunjukkan kenyataan berbeda.

Baca Juga: Dari Pidato PBB ke Ottawa: Prabowo Bawa Pulang CEPA dan Kerja Sama Pertahanan Kanada

“Emisi metana dari tambang batu bara Indonesia bisa mencapai delapan kali lipat lebih tinggi dibanding laporan resmi,” tulis Ember dalam analisisnya, dikutip pada Kamis, 25 September 2025.
Metana merupakan gas rumah kaca yang dampaknya 80 kali lebih kuat dibanding CO₂ dalam jangka pendek, dan hingga kini belum masuk hitungan resmi emisi perusahaan.

Sejumlah catatan menunjukkan klaim hijau PTBA belum sebanding dengan kenyataan. Tempo.co menulis, porsi terbesar emisi PTBA justru berasal dari Scope 3, yakni emisi dari pemakaian batu bara oleh pelanggan.

Emisi jenis ini terus naik sejak 2021, meski sempat turun sedikit pada 2023. Artinya, bisnis utama PTBA masih meninggalkan jejak karbon raksasa di luar kendali langsung perusahaan.
Dampak sosial pun nyata. Studi yang dipublikasikan di Aerosol and Air Quality Research tahun 2024 menemukan prevalensi penyakit paru hitam (black lung disease) di kalangan penambang batu bara Indonesia mencapai 13,88 persen.

Baca Juga: MBG Program Prioritas Presiden yang Sering Dihadapkan Kasus Keracunan, Kepala BGN Sebut Kemampuan SPPG hingga Serius Bentuk Tim Investigasi Khusus

Penelitian lain di Tanjung Enim juga menunjukkan adanya paparan radioaktivitas alami di area tambang yang dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat sekitar.

Dengan sederet fakta tersebut, PTBA tampak terjebak dalam kontradiksi. Di satu sisi, perusahaan menampilkan wajah hijau melalui reklamasi dan PLTS kecil-kecilan.

Di sisi lain, bisnis utamanya tetap batu bara, komoditas yang semakin ditinggalkan pasar global dan menimbulkan beban lingkungan maupun sosial.

Baca Juga: Pelaku Penganiayaan Karyawan Zaskia Mecca Ditangkap, Resmi Tersangka

Tanpa langkah nyata mengurangi produksi dan mengelola emisi metana, PTBA berisiko hanya dipandang sebagai perusahaan yang “melabur arang dengan cat hijau.” ***

Tags

Terkini