nasional

Hadiri Peresmian Layanan Terpadu RSPON, AM Hendropriyono Soroti Pesan Presiden Prabowo Soal Jumlah Dokter

Rabu, 27 Agustus 2025 | 00:12 WIB
AM Hendropriyono hadiri peresmian gedung layanan terpadu RSPON pada Selasa, 26 Agustus 2025. (Dok. Izhar/Kilat)

SENAYANPOST - Jenderal TNI (Purn) Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriyono turut hadir dalam peresmian gedung layanan terpadu Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Jakarta pada Selasa, 26 Agustus 2025.

Acara tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto yang sekaligus meresmikan Institut Neurosains Nasional RSPON.

Dalam kesempatan itu, Hendropriyono menyoroti pesan penting Presiden Prabowo terkait kebutuhan tenaga medis di Indonesia.

Menurutnya, pemerintah harus mencetak lebih banyak dokter, khususnya di bidang spesialis syaraf otak.

Dokter spesialis syaraf otak dapat ditempatkan di berbagai daerah Indonesia sehingga memperbesar peluang untuk menyelamatkan pasien.

“Ada, yaitu tentang kebutuhan 120.000 dokter umum dan 70.000 dokter spesialis yang harus dipenuhi oleh seluruh jajaran pemerintah di bidang kedokteran nasional. Khusus untuk spesialis syaraf otak yang hanya punya 3 jam golden time untuk menyelamatkan pasiennya. Tidak mungkin jika mereka harus dkirim ke kota besar apalagi ke Jakarta semua,” ujar Hendropriyono.

Ia menilai pesan tersebut akan menjadi pekerjaan berat bagi Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.

"Kemungkinan pekerjaan Menteri Kesehatan Budi Sadikin yang sangat berat adalah melaksanakan bisnis unusual. Suatu terobosan terhadap sistem selama ini yang kaku bagaikan kurungan besi,” tambahnya.

Menurut Hendropriyono, terobosan yang dimaksud dapat berupa desentralisasi penuh di bidang kesehatan agar setiap daerah segera mencetak dokter umum sebanyak mungkin dalam lima tahun ke depan.

"Menteri kita yang inovatif itu barangkali perlu didukung oleh kebijakan khusus, untuk menerapkan desentralisasi penuh di bidang kesehatan. Dengan demikian bisa mendorong setiap daerah, untuk segera mencetak dokter umum sebanyak mungkin dalam 5 tahun ke depan. Dengan cara biasa kata Presiden, kita memerlukan 35 tahun untuk memenuhinya. Tapi dengan business unusual (FK mini di tiap daerah, mobilisasi massal dengan pengawasan pusat), Indonesia bisa menutup kekurangan dokter yang sangat kronis ini lebih cepat yang sekaligus memperkuat kemandirian kesehatan nasional. Mereka wajib berbakti di daerah terpencil tersebut selama 5 tahun. Dari sekian jumlah dokter umum yang ada. Baru bisa diharapkan dapat dipenuhi banyaknya dokter spesialis syaraf otak yang dibutuhkan,” jelasnya.

Terkait kualitas, Mantan Kepala BIN itu menegaskan bahwa yang utama adalah ketersediaan tenaga medis terlebih dahulu.

“Ya orangnya harus ada dulu dong, baru bicara kualitas, rumah sakit, alat-alatnya dan lain-lain yang bisa terus-menerus ditingkatkan,” pungkasnya. (*)

 

Tags

Terkini