internasional

Citrinowicz: Iran sedang 'Tes Ombak', Ruang Kompromi Ada di Isu Nuklir, Bukan Rudal atau Proksi

Selasa, 10 Februari 2026 | 21:38 WIB
Ilustrasi, Pengamat Danny Citrinowicz menilai saat ini Iran sedang tes ombak terkait pembicaraan nuklir dengan AS di Oman beberapa waktu lalu. (Pexels.com/Elif Ozlem Aydeniz)

"Yang lebih penting dari ucapan Eslami—yang sebaiknya disikapi hati-hati—adalah pesan Larijani dalam lawatannya ke Oman," kata Citrinowicz.

Ketakutan Rezim dan Mandeknya Reformisme Politik

Di luar isu nuklir, Citrinowicz juga mengamati situasi dalam negeri Iran yang makin represif.

Penangkapan salah satu tokoh reformis baru-baru ini, menurutnya, jadi cermin seberapa besar rasa tidak aman rezim terhadap kelangsungan hidup sendiri.

Baca Juga: Eks Intelijen Israel: Tanpa Exit Strategy, Opsi Militer AS terhadap Iran Berisiko Tanpa Akhir

"Penangkapan ini menunjukkan betapa dalamnya rasa tidak aman sistem kekuasaan Iran soal masa depannya—bahkan terhadap alternatif politik yang moderat seperti kubu reformis," ujarnya.

Dia juga bilang, sikap diam Presiden Masoud Pezeshkian justru menegaskan batasan dissent dalam sistem politik Iran hari ini.

"Diamnya Pezeshkian makin menonjolkan seberapa patuh dia pada Pemimpin Tertinggi, dan seberapa sempit ruang untuk berbeda pendapat di sistem itu," tulis Citrinowicz.

Lebih jauh lagi, Citrinowicz mengkritik mereka yang masih percaya reformis Iran bisa menjadi jembatan menuju tatanan politik baru.

Baca Juga: Laporan: Pembicaraan AS dan Iran di Oman Fokus Program Nuklir, Negara Kawasan Berperan di Balik Layar

"Salah paham terbesar banyak pengamat adalah keyakinan bahwa kaum reformis bisa menjadi jembatan dari rezim sekarang ke masa depan," tulisnya.

Buat Citrinowicz, transisi politik yang sesungguhnya cuma bisa terjadi kalau pilar utama rezim sekarang benar-benar dirombak, sehingga ada ruang bagi kekuatan alternatif.

Sementara, kaum reformis menurutnya sangat lemah dan tak punya daya tawar institusional atau pengaruh independen.

"Reformis sangat lemah dan tidak punya kekuatan institusional maupun daya tawar sendiri," katanya.

Dia bahkan melihat, kalau Iran menggelar pemilihan presiden lagi, kemungkinan besar reformis tidak akan ikut serta.

Halaman:

Tags

Terkini