Meskipun ia sangat gembira atas penggulingan Assad, arah yang diambil oleh pemerintahan Sharaa telah membuatnya khawatir dan ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang 'transparansi dan legitimasi' pemilu mendatang.
"Kemudian seberapa besar pemilu tersebut akan menjadi representasi nyata dari beragam komunitas Suriah, termasuk representasi perempuan, terutama setelah penunjukan pemerintahan yang hampir seluruhnya laki-laki untuk memerintah negara tersebut," lanjutnya.
"Sejak dimulainya revolusi pada tahun 2011, rakyat Suriah telah memimpikan pemilu yang adil dan demokratis, sesuatu yang banyak dari kita, bahkan generasi yang lebih tua, tidak dapat praktikkan sama sekali di bawah kekuasaan rezim otoriter," ujarnya.
"Perjuangan kami untuk mewujudkan impian itu terus berlanjut," pungkasnya.***