SENAYANPOST - Ketika umurnya tak lagi muda sebagai pemain bola profesional, Cristiano Ronaldo memutuskan untuk menjadi pemain sepak bola yang membela tim Al-Nassr, yang berasal dari Kota Riyadh, Arab Saudi.
Kini pemain bola asal Portugal ini menjadi warga Al Muhammadiyah, yang merupakan kawasan elit di Riyadh.
“Al-Muhammadiyah itu kawasan elit, tentu akan banyak halangan untuk bisa masuk ke sana, tapi tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke sana. Bisa saja nanti ada info Muhammadiyah masuk ke sana,” ungkap Muhammad Hamka, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), Arab Saudi.
Lebih lanjut Muhammad Hamka menjelaskan bahwa, kedatangan Ronaldo juga menjadi salah satu daya tarik tambahan bagi wisatawan umrah, untuk melihat pertandingan Al-Nassr atau membeli jersey Al-Nassr.
Baca Juga: Perbedaan Pemain Sepak Bola Naturalisasi dan Pemain Lokal Versi Stefano Lilipaly
“Efek positif Ronaldo banyak, stadion-stadion penuh setiap Ronaldo main, bahkan tidak hanya di Arab Saudi, warga umrah dari berbagai negara juga beli jersey resmi Al-Nassr,” tambahnya dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.
Hamka juga membenarkan bahwa Ronaldo menjadi warga di kawasan Al-Muhammadiyah, sebuah kawasan elit yang diharapkan kelak dapat menjadi salah satu tempat beraktivitas PCIM Arab Saudi.
Nah, terkait aktivitas PCIM Arab Saudi sendiri, menurut Hamka berpusat di kota Madinah. Apalagi, PCIM Arab Saudi memiliki Markaz Dakwah di kota tempat hijrahnya Nabi Agung Muhammad Saw.
“Aktivitas PCIM memang terpusat di Madinah karena banyak warganya di Madinah. Tapi (PCIM) juga melebarkan sayapnya ke Riyadh, Jeddah, seperti program sembako di Jeddah dan tahun ini di Riyadh. Dan tahun ini akan ada Musycab di Tha’if. Jadi kita terus membersamai teman-teman dari wilayah-wilayah lain,” terangnya.
Baca Juga: Usulan Erick Thohir Dianggap APPI Melanggar HAM
Meski masyarakat Arab Saudi belum sepenuhnya mengetahui gerakan Muhammadiyah, namun PCIM Arab Saudi berkomitmen untuk menjaga pesan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam kunjungannya baru-baru ini.
Hamka mengatakan pesan dari Ayahanda, khusus karena di Saudi ini sistemnya kerajaan, maka di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Artinya PCIM itu memang istimewa, tidak bisa disamakan antara yang lainnya sehingga kita harus taat pada peraturan setempat sesuai dengan apa yang bisa dilakukan.
Contohnya, tidak bisa masang logo di Markaz, atau terang-terangan mengatakan Muhammadiyah ada di sini, karena ormas apapun di Arab Saudi adalah terlarang meskipun di bawah kedutaan.