Pada hari Rabu, jenazah akan dipindahkan ke Basilika Santo Petrus agar umat dapat memberikan penghormatan terakhir sebelum prosesi pemakaman berlangsung.
Kehadiran sejumlah kepala negara turut mewarnai rencana pemakaman tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama sang istri dipastikan akan terbang ke Roma, disusul oleh Presiden Argentina Javier Milei yang juga menyatakan akan hadir.
Konklaf, yakni proses pemilihan Paus baru, direncanakan dimulai pada 6 Mei 2025.
Ini sesuai tradisi yang menyebutkan pemilihan digelar 15 hingga 20 hari setelah wafatnya Paus.
Sebanyak 135 kardinal memiliki hak untuk mengikuti konklaf dalam proses yang berlangsung secara tertutup dan penuh kerahasiaan.
Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin Gereja Katolik yang membawa angin perubahan.
Sepanjang kepemimpinannya, ia mengambil berbagai langkah progresif yang sering kali bertentangan dengan kelompok konservatif dalam Gereja.
Ia juga memprakarsai reformasi internal, termasuk upaya membenahi struktur keuangan Vatikan serta menangani kasus pelecehan seksual di lingkungan klerus.
Menariknya, mayoritas kardinal yang akan mengikuti konklaf adalah orang-orang yang diangkat langsung oleh Paus Fransiskus.
Lebih dari 80 persen dari mereka diyakini sejalan dengan visi dan arah kebijakan beliau.
Meski demikian, tidak ada jaminan bahwa Paus selanjutnya akan mengikuti jejak yang sama.
Sebagai bagian dari persiapan, para kardinal akan menggelar serangkaian Kongregasi Umum, yakni forum diskusi tertutup yang membahas arah masa depan Gereja dan kriteria pemimpin spiritual berikutnya.
Dengan banyaknya tantangan yang dihadapi dunia dan umat Katolik saat ini, pemilihan Paus yang baru tentu menjadi momen krusial.
Dunia kini menanti siapa yang akan mengemban tongkat estafet sebagai pemimpin Gereja Katolik setelah Paus Fransiskus, sang “peziarah harapan”, berpulang ke pangkuan Tuhan.