Ketika berlangsung konflik politik internal di Libanon, Iran memanfaatkan peluang tersebut dengan mendukung campur tangan Syria di Libanon guna mencegah Partai Phalangis yang cenderung berpihak ke Israel. Pada 1987 saya menyaksikan sendiri, pasukan Garda Revolusi Iran yaitu Pasdaran melatih para milisi Hizbullah Libanon di Zabadani, wilayah Syria yang berbatasan dengan Libanon. Pasukan yang dilatih di Syria tersebut adalah cikal bakal Hizbullah. Selain partai politik terbesar di Libanon, Hisbullah juga merupakan kekuatan militer terkuat dan bahkan lebih kuat dari pasukan pemerintah. Pemerintah Libanon membatasi ruang gerak mereka di Libanon Selatan sekaligus sebagai penjaga perbatasan Libanon Selatan dari ancaman Israel.
Selain Hizbullah, Iran juga menggandeng Hamas di Gaza dan Houthi di Yaman. Anggota-anggota Hamas sebagain besar adalah pengikut Ahlus Sunnah, sedang Houthi sebagian besar pengikut Syiah Zaidiyah. Sedang di Iran mayoritas pengikut Syiah Istna Asyriyah. Dengan demikian Iran menjadi dan bahkan mengendalikan Syria, Hizbullah Libanon, Hamas di Gaza Palestina dan Houthy di Yaman.
Iran dan Syria (didukung Rusia), Hizbullah, Hamas, Al Houthy ternyata telah mampu mengendalikan perkembangan konflik militer dan mampu menempatkan Israel pada posisi tertekan secara politik dan dalam batas tertentu militer. Secara politik antara lain meningkatnya dukungan atau simpati pada perjuangan rakyat Palestina didunia. Di samping Israel juga tidak bisa meremehkan potensi ancaman militer dari Iran.
Israel memang mampu melakukan operasi intelijen yang menewaskan Ismail Haniyeh, tokoh moderat pragmatis Hamas, tetapi bukan berarti sudah mengalahkan perjuangan Rakyat Palestina.
Negara-negara di dunia juga tidak akan membiarkan pecahnya perang Arab - Israel karena hal itu akan berakibat hancurnya industri migas khususnya di Semenanjung Arab dan Teluk Arab yang merupakan sumber minyak terbesar di dunia.
Indonesia mempunyai peluang besar sebagai penengah di antara kedua belah pihak yang besengketa. Beberapa Rabbi Yahudi yang memgang teguh ajaran monoistik, etnik - centris, agama Ibrahimi atau mengaku penerus ajaran Ibrahim menyatakan bahwa esksistensi negara Israel yang didirikan paska Perang Dunia ll bukan dimaksudkan untuk menampung seluruh warga Yahudi di seluruh dunia. Tetapi sebagai simbol bahwa bangsa Yahudi awalnya berasal dari Yerusalem dan sekitarnya serta tidak diusir dari beberapa negara Eropa seperti yang terjadi pada PD l dan PD II.
Bung Karno dengan berbekal Pancasila mampu memerdekakan bangsa-bangsa Asia - Afrika dari kolonisalisme hanya dalam dua dekade. Saya yakin dibawah pimpinan Presiden Jenderal TNI Prabowo Subianto, Indonesia mampu mewujudkan kemerdekaan Palestina. Justru dalam era globalisasi sekarang ini Pancasila semakin relevan.