gaya-hidup

Replika Candi Brawijaya di Kraton Majapahit Jakarta

Minggu, 19 April 2026 | 13:01 WIB

Mush'ab Muqoddas, Lc

Pimred Senayan Post

 

Candi Brawijaya merupakan salah satu bagian dari Komplek Pecandian Penataran di Kabupaten Blitar Jawa Timur. Candi ini merupakan lambang dari Komando Daerah Militer V/ Brawijaya di Jawa Timur.

Candi Brawijaya memiliki nama lain seperti Candi Angka Tahun, karena di bagian depan (selatan) bangunan candi terdapat angka dalam Aksara Jawa Kawi 1291 Tahun Saka atau 1369 Tahun Masehi. Nama ini merupakan nama awal yang digunakan para arkeolog di era kolonial untuk menamai Candi Brawijaya.

Nama lain Candi Brawijaya adalah Candra Sengkala karena di bagian tengah atas muka candi terdapat ukiran kepala raksasa kala yang bulatnya seperti bulan purnama (candra). Maksud dari diukirnya kepala kala yang juga dinamai dengan Banaspati atau raja hutan adalah untuk menakut-nakuti roh-roh jahat yang berusaha mengganggu.

Bagian dalam kamar garbagriya selatan candi terdapat patung Ganesha (manusia berkepala gajah) yang dianggap dewa pelindung. Adapun bagian dalam kamar garbagriya utara candi terdapat arca perempuan yang diasosikan sebagai Gayatri Rajapatni, istri Pendiri Majapahit Raden Wijaya dan ibunda dari Maharatu Tribhuwana Tunggadewi, juga anak dari Penguasa Singasari Raja Kertanegara.

Komplek Pecandian Penataran juga dapat disebut sebagai Karnak van Java karena merupakan kesinambungan peradaban kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, dari Kediri, Singasari hingga Majapahit. Seperti halnya Kuil Karnak di kota Luxor Mesir yang dibangun oleh dinasti-dinasti era New Kingdoms Pharaoh Penguasa Mesir.

Pembangunan Komplek Pecandian Penataran dimulai secara linear dari selatan ke utara yaitu Bale Agung, Pendopo Teras, Candi Brawijaya, Candi Naga dan Candi Penataran (candi utama) berbentuk piramida 3 (tiga) tingkat dengan dengan relief di dinding setiap tingkat menceritakan tentang kisah Ramayana. Adapun bagian pojok timur laut terdapat kolam Patirtan yang airnya masih bening.

Berbeda dengan Candi Brawijaya di Komplek Pecandian Penataran yang dibuat dari batu putih, seperti di era Medang, replika Candi Brawijaya di Kraton Majapahit Jakarta dibuat dari bata merah, yaitu bahan yang sering digunakan kerajaan Majapahit dalam membangun candi. 

Seperti halnya Komplek Pecandian Penataran yang luasnya lebih dari 12.000 meter persegi, Kraton Majapahit Jakarta dengan luas sekitar 5.000 meter persegi, sebagai replika dari Peradaban Nusantara di dalamnya juga dibangun beberapa replika di antaranya Candi Brahu, Candi Wringin Lawang, Patung Dewi Laksmi Istri Raja Airlangga Kerajaan Medang, Ari Terjun Madakaripura hingga Goa Suci yang aslinya berada di Kabupaten Tuban provinsi Jawa Timur.

Setidaknya terdapat 4 (empat) replika Candi Brawijaya di Kraton Majapahit Jakarta yang digunakan sebagai gerbang akses dari Alun Alun Kertarajasa menuju Tamansari Maharatu Tribhuwana Tunggadewi.

Pembangunan replika-replika ini merupakan upaya Pendiri Kraton Majapahit Jakarta Prof AM Hendropriyono untuk mengingatkan generasi muda di masa kini dan masa mendatang akan keluhuran Peradaban Nusantara yang harmonis dan berkesinambungan.

Tags

Terkini

3 Cara Hilangkan Kerak Toilet, Langsung Kinclong!

Selasa, 21 April 2026 | 13:30 WIB

Replika Candi Brawijaya di Kraton Majapahit Jakarta

Minggu, 19 April 2026 | 13:01 WIB