SENAYANPOST - Pengamat sosial dan akademisi Prof Rhenald Kasali menilai viralnya lagu "Mas Bahlil Ganteng" di media sosial tidak bisa dipandang sekadar sebagai tren hiburan biasa.
Lagu tersebut berbicara tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Menurut Rhenald, fenomena tersebut mencerminkan perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi di era digital yang didorong oleh algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan budaya internet.
Dalam keterangannya, Rhenald menjelaskan bahwa lagu-lagu sederhana dengan lirik yang terkesan tidak nyambung justru memiliki peluang besar untuk menjadi viral karena lebih mudah diproses dan diingat oleh otak manusia.
Baca Juga: Tindak Lanjuti Arahan Prabowo, Bahlil Siap Eksekusi Ratusan Izin Tambang Bermasalah di Kawasan Hutan
"Karena kita hidup di era AI, algoritma, dan budaya internet. Otak manusia menyukai sesuatu yang mudah diproses, mudah diingat, dan meninggalkan rasa penasaran," ujar Rhenald pada 31 Mei 2026, dikutip SenayanPost.com dari Instagram @rhenaldkasali.
Menurutnya, unsur-unsur seperti kalimat yang menggantung, cerita yang absurd, hingga tokoh yang terus diperbincangkan publik sering kali memiliki daya tarik lebih kuat dibandingkan pesan yang terlalu kompleks.
"Kalimat yang belum selesai, cerita yang absurd, atau tokoh yang terus diperbincangkan sering kali lebih kuat daripada pesan yang terlalu rumit," katanya.
Fenomena Viral di Tengah Tekanan Sosial
Rhenald menilai kemunculan berbagai konten viral juga tidak lepas dari kondisi sosial yang sedang dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Tindaklanjuti Perintah Prabowo Eksekusi Izin Usaha Tambang Nakal, Bahlil: Insya Allah Hasil Baik
Di tengah tekanan ekonomi, dinamika politik, serta derasnya arus informasi, publik cenderung mencari hiburan yang ringan dan mudah dicerna.
"Di tengah tekanan ekonomi, kelelahan politik, dan banjir informasi, masyarakat mencari sesuatu yang ringan untuk dinikmati. Dari situlah fenomena-fenomena viral lahir dan menyebar begitu cepat," ujarnya.