Ziarah ke Makam Bung Hatta

Ziarah ke Makam Bung Hatta

Oleh: Djadjat Sudradjat

AWAL Ramadhan ingin saya ajak istri dan putri kami salat dhuhur di Masjid Jami Bung Hatta di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Sekalian ziarah ke makam sang proklamator yang berada di area ini. Wakil presiden era Bung Karno ini berwasiat agar jasadnya kelak dimakankan di TPU Tanah Kusir. Tak di Taman Makam Pahlawan Kalibata laiknya orang yang banyak jasa. Ia ingin jasadnya dibaringkan di liang lahat sebagai rakyat biasa. 

Saya merasa berziarah ke pusara mendiang Bung Hatta amat penting. Penting untuk mengingatkan generasi anak kami bahwa bangsa ini punya pemimpin besar dengan karakter yang kuat. Bersih dan bersahaja. Tekun dan teliti. Dalam memisahkan urusan keluarga dan negara, Hatta sering diiringkan dengan Umar Bin Khattab. Khalifah yang kejujurannya tegak lurus itu. Pada 1972, mantan presiden ini juga dikabarkan tak mampu membayar rekening listriknya. Uang pensiun Hatta tak cukup. 

Ada banyak cerita kejujuran Hatta. Salah satunya ia marah ketika tahu sekretarisnya mengambil kertas dari kantor saat di rumah dinasnya  Hatta kehabisan kertas. Padahal, untuk kepentingan negara juga ia berkorespondensi. Sang istri, Rahmi Hatta, yang sudah lama menabung juga gagal membeli mesin jahit karena kebijakan pemotongan mata uang (sanering) pada 1950. Hatta tak memberi tahu sang istri soal ini.

Hatta juga adalah sosok yang "menyempurnakan" Sumatera Barat sebagai tempat subur lahirnya  para tokoh besar di masanya. Ulama, ilmuwan, sastrawan, wartawan, negarawan lahir di tanah Minangkabau yang relijius ini. Selain Hatta ada Agus Salim, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, Muhammad Yamin, Rasuna Said, Rohana Kudus, Marah Rusli, dan sederet yang lain.

Perang Padri selain  menimbulkan luka yang dalam, tapi kemudian memantik kesadaran baru "urang Minang" menimba ilmu umum agar sejajar dengan Eropa. Seorang sejarawan menilainya begitu. Di awal abad 20 menurut sejarawan Taufik Abdullah dalam sebuah perbincangan,  jumlah kaum terdidik di Sumatera Barat terbanyak di Indonesia. Wajar  jika Minangkabau gudangnya  kaum cerdik pandai. Balai Pustaka dan Pujangga Baru pun dipenuhi satrawan dari wilayah ini. 

Hatta lahir dari keluarga besar pemuka agama ternama. Ia pun sudah digadang akan dikirim ke Mekkah dan berakhir di Mesir untuk melanjutkan studi ilmu agama. Tapi, ia menentukan pilihan studi ke Belanda, Barat. Perkenalannya dengan buku-buku berbahasa Belanda di sekolah menengah atas di Batavia dan pergaulannya dengan berbagai tokoh ternama seperti Haji Agus Salim, menjadi modal penting mengasah intelektualitasnya. 

Selama 11 tahun Hatta belajar di Eropa. Ia pulang menjadi seorang intelektual dan pemimpin yang berkharisma. Segera ia menjadi partner serasi Bung Karno yang revolusioner. Keduanya sama-sama pelahab buku-buku bermutu. Keduanya biasa menulis di media massa. Soekarno orator ulung, Bung Hatta konseptor mumpuni. Bung Karno bicara hal-hal besar, Bung Hatta merumuskan hal-hal detil dan dalam. Keduanya saling melengkapi.

Dalam perkembangannya mimpi Hatta  tentang demokrasi yang diperjuangkan para pendiri bangsa seperti melindap. Bung Karno menakhodai Indonesia dengan  Demokrasi Terpimpin. Presiden jadi penentu segalanya. Di antaranya anggota MPRS diangkat presiden dan MPRS pula yang mengangkat Bung Karno sebagai presiden seumur hidup. Niatnya baik kata Hatta, tapi dalam praktik berkebalikannya.

"Dwi Tunggal" itu pun pecah. Hatta  kerap mengutip sajak penyair Jerman favoritnya, Friedrich Schiller, "Sebuah zaman besar pada abad ini telah lahir. Tapi masa yang besar ini menemukan jiwa kerdil." Ia pun mengundurkan diri sebagai wapres pada 1956. 

Tapi perbedaan politik keduannya yang tajam sama sekali tak meretakkan hubungan pribadinya. Ketika Hatta stroke pada 1963, Soekarno pula yang membujuk Hatta untuk berobat ke Swedia dengan biaya negara. Bung Karno juga meminta sekretaris Hatta yang setia, I Wangsa Wijaja, agar menjaga baik-baik sahabatnya itu.

Dalam kunjungannya ke berbagai negara setelah sembuh, Hatta tetap membela Sokarno. Ketika dipancing-pancing wartawan tentang Bung Karno, ia tak tergoda. Ketika Guntur menikah dan Soekarno mulai sakit-sakitan, ia menasihati putra sulungnya itu untuk menghubungi Hatta jadi walinya. Hatta menunaikan tugas itu dengan setulusnya. Hanya pribadi tangguh memang yang bisa memisahkan kamar publik dan kamar privat. 

Hatta dan Soekarno diangkat sebagai Pahlawan Proklamator pada 1986 dan sebagai Pahlawan Nasional pada 2012. Pengangkatan yang sesungguhnya sangat terlambat.

Saya belum pernah bertemu dan bermuka-muka dengan Bung Hatta. Kelahiran Bukittinggi, 12 Agustus 1902 ini wafat di Jakarta pada 14 Maret 1980. Tetapi, dengan Ibu Rahmi Hatta di awal 1990-an saya pernah mewawancarai di kediamannya, di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ia wafat pada 13 April 1999. Usia pasangan ini memang terpaut jauh, Rahmi Hatta lebih muda 24 tahun. Karena perjuangannya demi Indonesia merdeka, ia terlambat menikah 

Dengan putri sulung Hatta, Meutia Farida Hatta, beberapa kali berjumpa. Ketika ia dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) antropologi Universitas Indonesia saya juga hadir. Ia diangkat menjadi Menteri Pemberdayaan Wanita di era SBY yang kedua. Adiknya, Gemala Rabi'ah Hatta dan Halida Nuriah Hatta sekali dua juga pernah berjumpa. Tiga bersaudara yang tetap rendah hati dan bersahaja.

Di makam Bung Hatta tertulis perjuangan Bung Hatta -- yang tercantum dalam konstitusi-- tentang keadilan sosial yang belum terwujud secara baik. Lewat Meutia dari "Rumah Bhineka Tunggal Ika" mengingatkan, agar pemerintah dan segenap bangsa bahu-membahu mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial yang lebar.

Sudah tepat Bung Hatta dipakai sebagai nama penghargaan untuk para pejabat publik yang bersih, "Bung Hatta Anti-Corruption Award." Karakter Bung Hatta menjadi penting dihadirkan justru ketika kini demokrasi masih karut-marut dan korupsi masih tinggi.

Saya percaya Bung Hatta akan tetap menjadi inspirasi seperti tertulis di prasasti. "Meskipun Bung Hatta telah tiada,  Bung Hatta akan tetap hidup dalam hati kami. Cita-cita Bung Hatta akan senantiasa menyinari perjuangan kami."

*Djadjat Sudradjat, Anggota DPRD Kabupaten Banyumas dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem).