Wiyosan Dalem akan Sajikan Bedaya Sapta

Wiyosan Dalem akan Sajikan Bedaya Sapta

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Memperingati hari kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Buwono X pada hari Selasa Wage (20/10/2020), Keraton Yogyakarta akan menggelar Uyon Uyon Hadiluhung di Bangsal Sringanti, Keraton Yogyakarta.

Dalam rilisnya yang diterima Senin (19/10/2020, Keraton Yogyakarta menyebutkan uyon uyon atau pentas gamelan ini digelar pada hari Senin Pon (19/10/2020) akan menyajikan komposisi gendhing dan tarian Bedhaya Sapta.

Terkait situasi pandemi, pertunjukan kali ini masih akan digelar tanpa reservasi dan penonton. Meski demikian, Uyon-Uyon Hadiluhung tetap dapat disaksikan melalui siaran langsung (live streaming) di kanal Youtube dan Periscope Kraton Jogja, serta siaran RRI Pro 4 Yogyakarta mulai pukul 20.00 WIB.

Bedhaya Sapta merupakan tarian yangmengambil kisah dari Babad Pasundhan, tentang dua punggawa Sultan Agung, yakni Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya. 

Keduanya diutus untuk memperluas wilayah kerajaan dan membuat kikis (tapal batas) antara Mataram dengan Pasundan. Ditemani oleh dua abdi, Nayakarta dan Nayakerti, berangkatlah mereka dengan mengikuti jejak tapak badak. 

Mereka berhasil membangun tapal batas dan membuat Sultan Agung senang sehingga dihadiahi uang dan pakaian.

Bedhaya Sapta memiliki pola lantai yang berbeda dari bedhaya pada umumnya. Cerita Bedhaya Sapta langsung dipaparkan dalam pola lantai dan pesindhenan (lirik vokal) sejak awal gendhing. 

Peran-peran penari seperti endhel, batak dan sebagainya yang biasa terdapat dalam bedhaya tidak berlaku dalam Bedhaya Sapta. 

Penyebutannya diganti dengan penari 1, 2, 3, 4, 5 serta a dan b. 

Kemiripan Bedhaya Sapta dan bedhaya yang dibawakan sembilan penari terletak pada pola rakit lajur, rakit ajeng-ajengan atau rakit gelar. 

Uyon-uyon Hadiluhung kali ini mempersembahkan Bedhaya Sapta dalam versi jugag (pemendekan dari versi cekak).

Bedhaya Sapta merupakan salah satu tari klasik Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988).‘Sapta’ berarti tujuh, hal ini merujuk pada jumlah penari Bedhaya Sapta –tujuh penari–, tidak seperti tari bedhaya yang biasanya dibawakan oleh sembilan penari.

Sementara komposisi gendhing yang akan ditampilkan, meliputi gendhing pambuka, gendhing soran, gendhing lirihan I, II dan III serta gendhing panutup. (AS)