Wawancara Khusus Prof Dr AM Hendropriyono: Saya Menunjuk Fakta Sejarah

Wawancara Khusus Prof Dr AM Hendropriyono: Saya Menunjuk Fakta Sejarah

KELUARGA almarhum Sultan Hamid II melaporkan Prof Dr AM Hendropriyono (AMH) ke Kepolisian Daerah Kalimantan Barat di Pontianak, Sabtu (13/6/2020) atas beredarnya unggahan video yang dinilai mencemarkan nama baik Sultan Hamid II. Selain itu mereka juga geram melihat video berisi wawancara dengan purnawirawan Jenderal TNI tentang ketidaklayakan Sultan Hamid II mendapatkan gelar pahlawan nasional itu dan mengunggah pernyataan keras yang provokatif. Bahkan menuding AM Hendropriyono itu rasis. Berikut wawancara khusus Senayanpost.com (SP) dengan Pak AMH.

SP: Pertanyaan kami, Bapak diadukan oleh keluarga Sultan Hamid ke Polda Kalbar soal video viral. Bagaimana tanggapan Bapak? dan Seperti apa duduk perkaranya?

AMH: Saya heran kok mereka marah, kan saya cuma menunjuk fakta sejarah. Saya menasihati kaum muda agar membaca sejarah. Jangan hanya membaca medsos.

SP: Duduk perkaranya bagaimana sih Pak?

AMH: Duduk perkaranya begini, keluarga mereka setiap tahun selalu mengajukan Sultan Hamid II Alkadrie agar diakui dan diberi gelar sebagai pahlawan nasional. Saya nasihati jangan. Dia itu bukan pahlawan kok. Sekarang ini kan dekat HUT 17 Agustus dan 10 November. Jadi saya ingatkan kepada kaum muda agar waspada.
Karena keluarga mereka bergerak di dunia maya untuk menyesatkan opini publik, seperti mau mempolitisasi sejarah, karena mereka mengaku bahwa Sultan Hamid II itu perancang lambang negara kita, burung garuda. Padahal perancangnya itu dulu tim. Dia hanya koordinatornya. Keputusan burung gambarnya begitu adalah oleh Dwi Tunggal Sukarno-Hatta. Bukan dia. Jadi pengakuan mereka bahwa Sultan Hamid II Alkadrie itu perancang simbol negara burung Garuda itu pengakuan palsu. Hakikat simbol adalah frasa “Bhinneka Tunggal Ika”. Tapi itu kan karangan Empu Tantular pada abad 14, bukan karangan dia.

SP: Jadi apa tujuan Bapak menyampaikan hal itu?

AMH: Saya hanya ingin mengingatkan bahwa keluarga mereka itu keliru. Kenapa mereka tidak membaca sejarah. Jadi nggak usah marah sama saya sebagai orang tua. Kalau nggak mau diingatkan ya nggak apa-apa.

SP: Bapak juga dianggap rasis. Apa tanggapan Bapak?

AMH: Hamid Algadrie (alm) saya kenal baik dan hormati sangat tinggi. Dia perintis kemerdekaan. Anaknya Maher adalah sahabat saya. Sadik Algadrie juara judo nasional adalah binaan saya. Fuad Bawazier sudah seperti saudara saya. Quraisy Shihab sahabat saya banget yang pernah dalam satu kabinet. Dari mana ujung pangkalnya mereka menuduh saya ini rasis? Mereka menuduh saya sewenang-wenang sebagai rasialis. Bagaimana mungkin itu wong saudara semenda saya juga banyak orang keturunan Arab. Jangan ngomong dan nuding orang sembarangan ah.

SP: Jadi pesan apa yang sebenarnya ingin Bapak sampaikan?

AMH: Ya akhirnya saya usul kepada pemerintah, agar mengangkat pahlawan nasional kepada orang-orang zaman sekarang saja. Misalnya pahlawan Covid-19 dan lainnya. Tidak usah lagi mengangkat orang-orang zaman dulu sebagai pahlawan nasional. Bukti dan saksi sudah pada basi dan mati.

SP: Pesan Bapak sebenarnya bagus, agar generasi muda mau membaca sejarah. Tapi mengapa harus diangkat lewat unggahan di video?

AMH: Siapa yang membuat video itu saya sudah lupa namanya. Yang saya ingat mereka para pemuda Muslim, mewawancarai saya dengan itikad baik. Pertanyaannya juga wajar, karena terkait usulan rutin terhadap orang-orang yang layak diangkat menjadi pahlawan nasional. Ya saya tanggapi apa adanya.