Catatan dari Senayan

Waspada, Masih Banyak Teroris di Rumah Kita

KINI ingar bingar Piala Dunia 2018 di Rusia, kompetisi sepakbola terakbar di dunia menjelang usai, Asian Games di Jakarta dan Palembang segera dimulai, Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden di negeri kita tengah disiapkan dengan suhu yang cenderung memanas. Semuanya tak boleh membuat kita terlena, bahaya terorisme dan radikalisme belum reda dan menjadi ancaman laten.

Kemarin kita tersentak oleh penggerebekan terduga teroris di Yogyakarta, tiga terduga tewas ditembak. Beberapa hari yang lalu ditangkap terduga teroris di Blitar, Sukabumi, dan di daerah lainnya, menyusul ledakan beruntun dalam peristiwa bom bunuh diri di Surabaya dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu. Juga kasus penyerangan di Mapolda Riau. Itu semua menunjukkan aksi tetorisme di negeri belum berhenti dan perlu terus diwaspadai.

Piala Dunia segera berakhir di Rusia. Tapi di negeri kita, dua pesta: olah raga dan demokrasi itu justru bisa menjadi sasaran para teroris kalau kita tidak berhati-hati. Kita boleh bersama menyemarakkan Asian Games di Jakarta dan Palembang, boleh menggelorakan semangat Pemilu dan Pilpres di seantero Nusantara, kaum teroris bisa jadi mengincar di mana-mana. Semeriah apa pun Asian Games, sesukses apa pun Pemilu dan Pilpres, jika kita lengah dengan beraksinya teroris akan menjadi noktah hitam untuk semuanya.

Oleh karena itu menjadi tugas kita bersama untuk bersama memelihara kondusivitas negeri. Di pesta olah raga Asian Games akan terlibat ribuan atlet dari berbagai negara Asia, juga jurnalis dan tamu-tamu dari negara-negara peserta. Di pesta demokrasi Pemilu dan Pilpres 2019 kita semua terlibat. Tentu kita semua berharap kedua pesta sukses dalam penyelenggaraan dan sukses dalam keamanan dan ketertiban. Semuanya harus dimulai dari sekarang.

Lihat saja kemarin di Yogyakarta. Kota yang biasanya adem ayem tiba-tiba menghentakkan kita dengan dar-der-dor. Tiga terduga teroris ditembak aparat setelah melewati ketegangan, pengejaran, dan saling serang. Jika kita tidak waspada bisa jadi kasus serupa berulang di Jakarta, Palembang, atau di mana saja. Jika itu terjadi di sekitar pesta olah raga dan pesta demokrasi, dikhawatirlan akan mencoreng nama bangsa. Persiapan panjang dua pesta yang menguras pikiran, tenaga, dan dana, akan tercederai.

Pemerintah kita tak kurang-kurangnya mengantisipasi segala kemungkinan yang tidak diinginkan itu dengan melipatgandakan pengamanan, menutup berbagai celah yang berpotensi menimbulkan kerawanan, dan memelihara kamtibmas sebaik-baiknya. Toh itu tidak cukup tanpa peran serta kita, segenap warga masyarakat. Karena di rumah-rumah kita sesungguhnya terorisme gampang menyelinap. Apalagi jika kita gampang membukakan pintu dan membiarkan mereka berulah. Kita memang harus ramah kepada semua pihak, tetapi juga harus tetap peduli dengan keamanan dan keselamatan bersama.

Membuka pintu dalam arti dengan membiarkan berlangsungnya konflik, teledor mewaspadai lingkungan, apalagi sampai mudah larut dengan aktivitas radikalisme dan terorisme. Marilah kita jaga pintu kita, kita kunci rapat-rapat, agar radikalisme dan terorisme tak bisa lewat memasuki rumah kita, lingkungan, dan negara kita. Jika mereka sudah telanjur berada di dalam rumah dan lingkungan kita mari kita sadarkan, kita sesama warga bangsa, sesama warga dunia. Harus saling mengasihi, bahkan saling melindungi atas nama persaudaraan dan kemanusiaan.

Sukses kamtibmas berarti pula sukses Asian Games 2018 dan sukses Pemilu-Pilpres 2019.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya

Cek juga

Close
Close