Waspada! Hacker Incar Distribusi Vaksin Covid-19

Waspada! Hacker Incar Distribusi Vaksin Covid-19
Canadian Sailings

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Masyarakat di penjuru dunia saat ini tengah menanti kehadiran vaksin Covid-19. Akan tetapi, sebuah laporan tim peneliti keamanan IBM menyatakan, terdapat kampanye phishing global yang menargetkan distribusi vaksin itu.

Fokus dari kampanye ini adalah cold chain, segmen yang menjaga vaksin dosis tetap dingin saat penyimpanan dan pengiriman, dikutip dari The Verge, Jumat (3/12). Salah satu contohnya adalah Pfizer memberikan rekomendasi vaksin harus tetap dalam suhu minus 70 derajat celcius.

Peretasan itu mencakup enam wilayah, yakni Jerman, Italia, Korea Selatan, Republik Ceko, Eropa serta Taiwan. Korbannya adalah organisasi internasional yang mempromosikan akses dan distribusi vaksin bernama Gavi.

Secara spesifik, target utamanya adalah organisasi yang terhubung dengan Cold Chain Equiment Optimization Platform (CCEOP) yang akan mendistribusikan dan meningkatkan teknologi untuk membuat vaksin tetap dingin. Beberapa diantaranya adalah Directorate-General for Taxation dan Custom Union di Komisi Eropa.

Penipuan dilakukan dengan pelaku mengirimkan email operasional dan mengklaim sebagai bagian eksekutif supplier CCEOP, Haier Biodemical. Email ini berisi link HTML meminta kredensial pembuka yang nantinya akan membuka akses tidak sah ke jaringan.

"Kami merasa tujuan kampanye phishing Covid-19 ini untuk mendapatkan kredensial, memungkinkan mendapatkan akses tidak sah ke jaringan perusahaan di masa depan dan informasi terkait distribusi vaksin Covid-19," ungkapnya.

Tim peneliti belum tahu siapa aktor di belakang masalah tersebut. Namun mereka curiga pelaku merupakan suruhan negara bukan individu maupun kelompok.

Menurut para peneliti tidak mungkin penjahat siber menghabiskan waktu dan sumber daya untuk menjalankan operasional dengan banyak target serta pendistribusian global.

"Pengetahuan lanjutan soal pembelian dan pergerakan vaksin bisa mempengaruhi kehidupan serta ekonomi global merupakan target negara bernilai dan memiliki prioritas tinggi," ungkap tim peneliti.