Hot Isu

Warga Italia Terinfeksi Corona Diperkirakan Capai 700.000 Orang

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Badan Perlindungan Sipil negara Italia mengungkapkan jumlah kematian akibat virus corona (COVID-19) di Italia melonjak tajam dalam 24 jam terakhir, Selasa (24/3/2020). Saat ini ada 743 kasus kematian tambahan di negeri pia tersebut.

Angka itu merupakan jumlah kenaikan kasus kematian COVID-19 harian tertinggi kedua di negara itu sejak dikonfirmasi pada 21 Februari lalu. Angka itu juga naik tajam dari kasus kematian pada Senin yang sebanyak 602 kematian.

Hal itu membuat total kematian akibat COVID-19 di Negeri Pizza menjadi sebanyak 6.820 orang per Selasa. Sementara jumlah kasus infeksi yang dikonfirmasi mencapai 69.176.

Namun sayangnya, menurut Angelo Borrelli, Kepala Badan Perlindungan Sipil Italia, jumlah kasus di Negeri Pisa tampaknya bisa lebih tinggi dari yang dikonfirmasi saat ini. Alasannya, Italia hanya menguji orang-orang dengan gejala parah. Bahkan menurut Borrelli jumlah kasus infeksi di Italia bisa jadi 10 kali lebih banyak dari yang sekarang terdata.

“Rasionya hanya satu dari setiap 10 kasus yang telah diuji mungkin saja,” kata Borrelli kepada surat kabar La Repubblica. Pernyataan itu mengindikasikan Borrelli yakin ada sekitar 700.000 orang yang mungkin telah terinfeksi di Italia, menurut Reuters.

Padahal, dengan banyaknya jumlah kasus infeksi di Italia saat ini sudah membuat negara ini menjadi negara terdampak corona terparah di luar China, pusat wabah. China melaporkan 81.218 kasus.

Untuk menghambat penyebaran wabah, sebelumnya pada pertengahan Maret lalu pemerintah Italia telah memberlakukan penguncian (lockdown) terhadap negaranya. Semua tempat umum seperti sekolah, bar dan restoran ditutup. Orang-orang Italia juga telah dilarang meninggalkan rumah mereka untuk alasan apapun kecuali untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Berbagai bisnis yang tidak dianggap penting untuk rantai pasokan negara juga telah ditutup. Pada Senin, Perdana Menteri Giuseppe Conte telah meningkatkan denda bagi orang-orang yang berani meninggalkan rumah mereka di tengah lockdown, naik menjadi hingga 3.000 euro (US$ 3.225) dari maksimum sebelumnya yang hanya 206 euro.

“Kita masing-masing harus memainkan peran kita,” katanya kepada wartawan di sebuah video conference.

“Jika semua orang mematuhi aturan, mereka tidak hanya melindungi diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai, tetapi mereka akan memungkinkan seluruh komunitas nasional untuk keluar dari keadaan darurat ini.”

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close