Nasional

Warga Ciputat dan Pamulang Digemparkan Wabah Chikungunya

JAKARTA, SENAYANPOST.com –  Warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten digemparkan oleh penyebaran wabah virus chikungunya. Selain di wilayah Kecamatan Ciputat, penyakit ini juga mulai menjangkiti warga Kecamatan Pamulang.

Chikungunya adalah infeksi virus yang ditandai dengan serangan demam dan nyeri sendi secara mendadak. Virus ini menyerang dan menulari manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus, dua jenis nyamuk yang juga dikenal sebagai penyebab demam berdarah.

Data yang diperoleh, jumlah warga penderita chikungunya di Ciputat hampir mencapai 100 orang. Warga yang terjangkit tersebar di di Lingkungan RT 01, RT 02, RT 04, dan RT 06, Kampung Rawa Lele, Kelurahan Jombang. Sementara di Pamulang, sedikitnya 60 warga yang terjangkit. Mereka warga RW 016 di Jalan Lamtoro, Kelurahan Pamulang Timur.

Hingga kini, beberapa warga masih terbaring di rumah. Mereka yang terjangkit chikungunya mengeluhkan demam tinggi, otot, sendi dan tulang terasa nyeri, sakit kepala, dan lemas. Beberapa warga mengaku tidak mampu menggerakkan beberapa bagian tubuhnya dan merasa lumpuh.

Seperti yang dialami Hasanudin, warga RW 016 di Jalan Lamtoro, Kelurahan Pamulang Timur. Dia merasakan sakit pada otot, sendi, dan tulang selama beberapa hari. Awalnya dia menduga hanya masuk angin. Setelah memeriksakan diri ke dokter, dia didiagnosa terserang virus chikungunya.

“Awalnya Kamis kemarin. Badan sakit, saya pikir masuk angin, jadi dikerok. Jam 11 malam, badan makin sakit, kaku. Sendi, otot, sakit semua. Saya enggak bisa tidur sampai pagi karena sakit dan gelisah. Paginya ke dokter, katanya saya kena chikungunya,“ kata Hasanudin.

Warga Kampung Rawa Lele, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Andin yang juga menderita chikungunya juga merasa seperti lumpuh. Andin merasa lebih sakit karena dia juga tengah hamil.

Sekretaris Kelurahan Pamulang Timur Ade Heri Sutiawan mengatakan, berdasarkan keterangan yang dihimpun dari warga, hingga pekan kedua Februari 2020, sedikitnya 60 warganya terpapar virus chikungunya. Mereka seluruhnya terdata di lingkungan RW 16.

Warga merasakan gejala yang sama. Sebagian warga telah memeriksakan diri ke dokter dan dipastikan menderita chikungunya. Namun, pada umumnya warga menolak dirawat inap di rumah sakit dan memilih dirawat jalan dan.

“Warga dirawat jalan. Ada beberapa warga juga ke klinik. Tapi rata-rata enggak mau dirawat di rumah sakit karena lebih nyaman di rumah,” kata Ade Heri.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan mengatasi wabah chikungunya tersebut. Saat ini, warga khawatir wabah terus meluas dan semakin banyak penderita. Sementara warga juga banyak yang tidak mengetahui gejala-gejala infeksi virus ini termasuk pencegahannya.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close