Catatan dari Senayan

Wahai Mahasiswa, Jangan Mau Jadi Kuda Tunggangan

MAHASISWA, gerakan kalian serentak meggetarkan bangsa. Terlepas siapa yang menggerakkan, tuntutan membatalkan UU KPK mendapat respon dari berbagai pihak, termasuk dari Presiden Joko Widodo. Presiden menyatakan akan melakukan kalkulasi untuk menerbitkan Peraturan Presiden Pengganti Undang-undang alias Perppu tentang KPK.

Meskipun rencana Presiden itu masih diperdebatkan di luar antara pro dan kontra, Mensesneg Pratikno telah mengisyaratkan tengah menyusun draft Perppu itu. Artinya tuntutan kalian membuahkan hasil. Stop sampai di sini. Tak perlu lagi berunjuk rasa. Semua ada batasnya. Menggelar unjuk rasa alias demonstrasi tak relevan lagi.

Mengapa harus stop? Dalam beberapa hari unjuk rasa kemarin. Banyak pembonceng gelap dengan berbagai motif. Banyak juga korban luka, bahkan ada yang meninggal. Anak-anak pelajar di bawah umur pun terseret dalam kegiatan yang sesungguhnya mereka tidak memahami tujuannya. Ada yang menambah tuntutan unjuk rasa dari pembatalan revisi UU KPK, penundaan pengesahan sejumlah RUU, menjadi desakan pelengseran Presiden.

Begitulah tabiat unjuk rasa. Kelakuan kerumunan (crowd) tak mudah dikendalikan. Ada satu yang mulai memprovokasi, memaki, dan melempar batu, sontak diikuti peserta demo lainnya. Sekali ada yang melawan aparat, semuanya terbawa emosi ikut melempar. Para penumpang gelap mempunyai aganda tersendiri. Semakin rusuh unjuk rasa mereka semakin senang. Tujuan mereka memang memperkeruh keadaan. Syukur kalau sampai terjadi chaos.

Bagi aparat tak mudah membedakan mana pendemo aseli dan pendemo bayaran. Misalnya ada pendemo bukan mahasiswa yang memakai jaket almamater. Dilit memebedakan mana pendemo yang murni menyampaikan tuntutan dan mana yang membawakan aspirasi pesanan. Aparat meski digariskan tak boleh bertindak represif toh ada yang lepas kontrol manakala menghadapi demonstran yang beringas. Aparat pun berhak membela diri manakala mendapat serangan.

Pendek kata, di negara demokrasi, termasuk demonstrasi dibolehkan sejauh dilakukan secaravtertob dan damai sesuai batasan yang ada. Ada tuntutan utama demonstrasi. Manakala tuntutan sudah terpenuhi aktivitas turun ke jalan harus diakhiri. Tujuannya untuk menghindari masuknya para penunggang gelap. Demonstrasi yang berkepanjangan berpotensi dapat mengganggu kehidupan sosial, politik, dan ekononomi.

Dampak demonstrasi berkepanjangan akan dapat membuat masyarakat waswas, stabilitas politik dan ekonomi akan terganggu, pembangunan akan terhambat, para investor tak mau ambil risiko. kehidupan perdagangan, pariwisata juga akan terganggu. Kepercayaan asing terhadap Indonesia akan menurun. Pembangunan pun mandek.

Yang paling berbahaya dari berbagai gangguan dan hambatan itu adalah munculnya para spekulan politik yang memanfaatkan situasi. Menganggap pemerintah tak lagi dapat menguasai keadaan, menilai saatnya Presiden dilengserkan. Dengan segala upaya mereka menggerakkan people power, bekonspirasi dengan pihak-pihak lain yang merasa kecewa terhadap kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan mereka.

Semuanya memerlukan kesadaran untuk eling lan waspada. Bahwa kita semua menginginkan kondisi yang anan, tentaram dan damai. Karena prasyarat utama untuk keberhasilan pembangunan bangsa adalah kondisi yang aman, tenteram, tertib, dan damai.

Wahai mahasiwa, jangan mau menjadi kuda tunggangan.

Salam mandiri dan damai.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close