Opini

Waduh, Mereka Tetap Menyusup ke Dalam Makkah: Kisah Beberapa Penyusup Non-Muslim Masuk Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Lo. Mereka kok tetap masuk ke dalam Kota Makkah?”

Demikian seru bibir saya, kemarin sore, ketika saya sedang menyiapkan bahan presentasi tentang Kota Suci itu. Insya Allah minggu depan akan disajikan. Lewat zoom, tentu saja. Segera saja, dalam benak saya timbul pertanyaan, “Bukankah sejumlah orang-orang non-Muslim, di masa lalu, pernah ada yang berhasil melintasi checkpoint dan menyusup ke dalam Kota Makkah. Bagaimanakah kisah mereka?”

“Di masa silam,” jawab Paul Lunde dalam tulisannya berjudul “The Lure of Mecca” (Saudi Aramco World, November/Desember 1974), “meski adanya larangan yang sangat keras dan meski perjalanan haji merupakan perjalanan yang lama, sulit, dan berbahaya, para penyusup bukan tiada! Antara 908-1349 H/1503-1931 M, misalnya, ada sekitar 25 pengelana dan petualang Barat yang berhasil menyusup ke dalam Kota Suci kaum Muslim itu. Mereka termasuk seorang turis dari masa Renaissans, seorang tawanan perang Inggris, seorang mata-mata Spanyol, seorang ilmuwan asal Swiss, dan seorang penerjemah sebuah karya klasik, Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam).” Walah, ternyata, banyak juga para penyusup tak diundang itu!

Penyusup Pertama

Nah, kini, siapakah petualang dan pengelana non-Muslim pertama yang berhasil menyusup ke Makkah Al-Mukarramah?
“Ludovico di Varthema!” jawab Arthur Jeffrey dalam tulisannya Christians at Mecca. Penuh semangat. “Dialah orangnya!”
Pada 916 H/1510 M, petualang asal Bologna, Italia yang semasa dengan Vasco da Gama dan Leonardo da Vinci itu berhasil menyusup ke Madinah dan Makkah.

Petualang yang mengelana ke Mesir, Suriah, Hijaz, dan Yaman itu mulai meninggalkan Venecia, Italia pada akhir 908 H/1502 M. Tahun berikut, ia mendarat di Alexandria, Mesir. Dari kota pantai yang indah itu, ia kemudian meneruskan petualangannya ke Kairo, ibukota Mesir yang berjarak sekitar 200 kilo meter dari kota pantai itu.

Selepas beberapa lama berapa di Kota Seribu Menara itu, Ludovico kemudian balik ke Alexandria. Langkahnya berikut mengantarkan ia ke Beirut, Lebanon. Kota-kota berikut yang ia kunjungi adalah Tripoli dan Aleppo. Selain itu, selama dalam petualangannya itu, ia juga memelajari bahasa Arab. Pintar juga, dia!

Kemudian, tak lama setiba di Damaskus, Suriah, pada Sabtu, 10 Syawwal 908 H/8 April 1503 M, Ludovico di Varthema bergabung dengan sebuah batalion pasukan Dinasti Mamluk. Dinasti itu, kala itu memerintah Mesir dan Suriah. Kali ini, nama aslinya ia “simpan rapi” dan ia berganti nama dengan nama seorang Nabi: Yunus.

Mengapa Ludovico di Varthema dapat bergabung dengan pasukan Dinasti Mamluk? Ini karena sosoknya tak beda jauh dengan sosok kebanyakan para anggota pasukan dinasti itu. Ini karena sebagian besar di antara mereka berasal dari wilayah Eropa dan Rusia selatan (Circassia).

Tak lama selepas menjadi anggota Dinasti Mamluk, Ludovico di Varthema kemudian dikirim ke Hijaz bersama pasukan Dinasti Mamluk itu. Mereka bertolak bersama kafilah para jamaah haji dari Damaskus. Menurut catatannya, kafilah yang terdiri dari 40.000 jamaah dan 30.000 unta itu dikawal 60 anggota pasukan dinasti itu. Pemberhentian pertama kafilah itu, di dalam wilayah Hijaz, adalah oasis Khaibar.

Menurut catatan di Varthema, penduduk oasis Khaibar kala itu, yang berjumlah sekitar 4.000 hingga 5.000 orang, “dalam keadaan tanpa busana, memiliki tinggi sekitar empat kaki, berbicara dengan nada suara feminin, dan berkulit hitam legam. Mereka hidup sepenuhnya dari daging domba. Mereka dikhitan dan mengaku sebagai orang-orang Yahudi. Jika mereka berhasil menangkap orang Arab, mereka pun mengulitinya dalam keadaan hidup!”

Selepas kafilah Damaskus itu tiba di Makkah dan melaksanakan ibadah haji, Ludovico di Varthema segera meninggalkan Kota Suci itu. Tentu, karena khawatir jati dirinya terungkap. Ia kemudian melarikan diri dan bersembunyi selama tiga minggu di sebuah masjid di Jeddah. Dari kota terakhir itu, ia kemudian menumpang kapal ke Yaman. Setiba di Aden, ia ditangkap, karena dituduh sebagai mata-mata.

Namun, ia kemudian dibebaskan oleh penguasa negeri itu. Petualangannya selanjutnya mengantarkannya ke Persia, India, Malaysia, Indonesia (Sumatra, Banda, Jawa, dan Borneo), dan Afrika. Ia tiba di Lisabon, Portugal sebelum 916 H/1510 M. Kisah perjalanannya itu, kemudian, ia bukukan dengan judul Itinerario de Ludovico de Varthema Bolognese. Tujuh tahun kemudian, ia berpulang di Roma, Italia.

Petualang non-Muslim berikut yang berhasil menyusup ke Makkah adalah Vincent Leblanc. Ia adalah seorang pelaut Perancis asal Marseilles. Pelaut Perancis itu mengunjungi Makkah sekitar 975 H/1568 M. Seperti halnya Ludovico di Varthema, dalam penyusupannya ke Kota Suci itu ia bergabung dengan kafilah para jamaah haji dari Damaskus, Suriah.

Johann Wild, seorang anak muda asal Austria, adalah non-Muslim berikut yang berhasil memasuki Makkah. Namun, kehadirannya di kota yang berada di ketinggian 280 meter di atas permukaan bumi itu sebagai seorang tawanan. Tidak sebagai seorang petualang. Semula, ia adalah seorang serdadu Kekaisaran Austria.

Lantas, ketika Johann Wild terlibat dalam perang melawan Hungaria, ia tertawan. Karena itu, ia kemudian dijual kepada orang Turki. Selepas beralih dari satu majikan ke majikan yang lain, akhirnya ia menjadi milik seorang majikan asal Persia. Nah, sang majikan itulah yang membawa ia ke Makkah. Bersama kafilah dari Kairo pada 1015 H/1607 M.

Menurut catatan Johann Wild, ketika kafilah yang melintasi Sinai itu baru sampai di tengah perjalanan, mereka telah kehilangan 15 orang dan 30 unta. Selain itu, setiba di Makkah, Kota Makkah kala itu benar-benar memikat hatinya. Kisah petualangannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah karya berjudul Neue Reisbeschreibung eines gefangenen Christen.

Berhasil Masuk ke Dalam Ka‘bah

Seorang warga Exeter, Inggris, Joseph Pitts, adalah penyusup selepas Johann Wild. Kala berusia 15 tahun, ia mulai menjadi pelaut. Kemudian, pada 1089 H/1678 M, ketika dalam perjalanan menuju Newfoundland, kapal yang ia naiki berhasil ditawan oleh para pelaut Muslim di pantai Spanyol. Karena itu, ia kemudian dijual sebagai budak.

Nasib Josep Pitts pun berpindah-pindah. Dari satu majikan ke majikan yang lain. Ketika berada di bawah kekuasaan majikan ketiga, pada 1091 H/1680 M, ia diajak serta naik haji ke Makkah oleh majikannya itu. Selama empat bulan berada di Kota Suci itu, ia berhasil masuk ke dalam Ka‘bah dua kali! Ya, dua kali. Menurut ia, di dalam Rumah Allah itu tiada apa-apa! Kisah petualangannya kemudian ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul A Faithful Account of the Religion and Manners of the Mahometans.

Penyusup berikut adalah seorang petualang flamboyan asal Spanyol. Bernama asli Domingo Badia y Leblich, pada Dzulqa‘dah 1221 H/Januari 1807 M ia tiba di Makkah untuk naik haji dengan memakai nama ‘Ali Bey Al-‘Abbasi. Al-‘Abbasi? Ya, karena ia mengaku sebagai anak keturunan para penguasa Dinasti ‘Abbasiyah di Irak. Waduh. Nah, ketika naik haji, ia datang dengan mengenakan busana seorang pangeran dan disertai banyak pengiring.

Setahun sebelumnya, “Al-‘Abbasi” tiba di Kairo. Di Kota Seribu Menara itu, ia diterima dengan penuh kebesaran oleh Muhammad ‘Ali, penguasa Mesir kala itu. Kemudian, ia bertolak ke Makkah bersama kafilah Mesir tahun itu. Setiba di Makkah, ia disambut meriah Gubernur Makkah kala itu. Tapi, ia gagal pergi ke Madinah, karena kala itu Kota Nabi itu sedang dikuasai oleh Gerakan Wahabiyah.
Selepas berpulang di Aleppo, Suriah, akhirnya kedok mantan Gubernur Cordoba dan Sevilla di bawah pemerintahan Perancis itu terbongkar. Ternyata, ia adalah seorang mata-mata yang dikirim Napoleon Bonaparte untuk mengamati situasi dan kondisi Timur Tengah kala itu. Kisah petualangannya kemudian dituangkan dalam sebuah karya berjudul The Travels of Ali Bey el-Abbassi in Africa and Asia.

Itulah kisah beberapa penyusup non-Muslim yang berhasil “menembus” checkpoint menuju Makkah Al-Mukarramah. Memang, masih ada beberapa penyusup non-Muslim lain yang juga berhasil memasuki kota yang terletak dekat garis 21 derajat Lintang Utara dan garis 40 derajat Bujur Timur itu.

Antara lain adalah Ulrich Jaspar Seetzen (seorang pakar kajian Arab dan ahli botani asal Jerman yang bekerja di lingkungan Czar Rusia dan akhirnya terbunuh di Yaman) dengan karyanya Reisen durch Syrien, Palästina u.s.w., Sir Richard F. Burton (seorang tokoh Inggris) dengan karyanya A Personal Narrative of a Pilgrimage to Al-Madinah and Makkah, Giovanni Finati (warga Italia dan mantan anggota pasukan Napoleon Bonaparte), Leon Roches (seorang perwira Perancis) dengan karyanya Trente-deux ans à travers l’Islam, G.A. Wallin (seorang orientalis Finlandia), John Fryer Keane (seorang warga Inggris), C. Snouck Hurgronye (seorang orientalis Belanda) dengan karyanya Mekka, mit Bilderatlas, Gervais Courtellemont (seorang fotografer keturunan Perancis-Aljazair) dengan karyanya Mon Voyage à la Mecque, dan Arthur J.B. Wavell (seorang perwira Inggris) dengan karyanya A Modern Pilgrim in Mecca.

Makkah, juga Madinah, sebagai dua Kota Suci yang hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim, memang, malah memikat “orang lain” untuk memasuki dua Kota Suci itu. Namun, dewasa ini, saya belum menemukakan “para penyusup” baru ke dalam dua Kota Suci itu. Atau, barangkali, mereka tidak ingin diketahui identitas mereka. Mungkin saja [email protected] (*)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close