Lintas Daerah

Waduh, 7 Sapi di Blitar Mati Mendadak

BLITAR, SENAYANPOST.com – Satu bulan terakhir, sedikitnya tujuh ekor sapi milik warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mati mendadak. Sapi mati dengan ciri-ciri yang sama, yakni mengeluarkan ingus terus-menerus, demam tinggi, tidak suka makan, ambruk, lalu mati.

“Dari gejala hingga mati hanya berselang tiga hari, sapi sudah mati,” ungkap Mujiasri (46), salah satu warga Desa Purwokerto yang sapinya mati.

Mujiasri menceritakan, sapinya baru beranak sebulan yang lalu. Pada hari Rabu pekan lalu, sapinya mengeluarkan ingus secara terus-menerus yang juga disertai demam. Keesokan harinya sapi miliknya ambruk, dan pada hari Jumat lalu mati. Ia sempat berupaya untuk memanggilkan dokter hewan, namun sapinya tidak tertolong.

Atas kematian sejumlah sapi itu, saat ini pemerintah daerah masih meneliti penyebab matinya sapi secara mendadak milik sejumlah peternak di Kecamatan Srengat.

“Kami bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta, mengambil sampel yang bisa mendukung penelitian untuk mengetahui penyakitnya apa,” kata Kepala Bidang Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar drh Yudha Satya Wardhana, Selasa (10/4/2018).

Dikatakan, pihaknya sudah mengumpulkan informasi dari berbagai peternak yang mengalami musibah, sapi ternaknya mati mendadak. Ada peternak yang mengaku sapinya mengalami panas di atas normal, ada yang 39 derajat Celsius, ada yang hingga 42 derajat Celsius.

Setelah panas, diikuti dengan kondisi ternak yang lemas. Gejala itu hampir terjadi pada semua ternak yang mati mendadak. Saat ini dari pemkab belum mengetahui dengan pasti penyebab kematian sapi tersebut.

“Ada yang panas di atas normal, 39 derajat Celsius ada yang mengatakan 42 derajat Celsius, kemudian biasanya diikuti dengan `Ngongsrong` istilah jawanya, lemas, dan ini gejala klinis. Ini ada sesuatu yang aneh, tapi kami masih tunggul hasil uji laboratorium,” ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi pada sapi milik Suyanto, warga desa setempat. Sapi miliknya juga mati setelah sebelumnya mengalami demam. Bahkan, dari lubang hidungnya juga keluar banyak lendir, hingga mati.

“Gejalanya hidung berair, demam, lalu saya kubur. Sapi saya sedang bunting enam bulan,” kata dia.

Ia belum mengetahui dengan pasti, mengapa ternak sapinya bisa mati. Ia hanya berharap sakitnya tidak menular pada sapi yang sehat lainnya. Ia juga meminta dinas peternakan juga membantu peternak, memberikan obat dan vitamin agar sapi milik warga tetap sehat.

Di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, dalam satu bulan ini diketahui ada tujuh sapi yang mati mendadak. Namun, untuk sakit pastinya masih belum diketahui.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, melakukan langkah yang diperlukan, jika sudah ada hasil uji laboratorium dari Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta.

Sebelumnya pada 2014, di daerah itu juga terjadi kejadian yang sama, sapi milik peternak banyak yang mati. Pemerintah Kabupaten Blitar, saat itu mengungkapkan jika sapi warga positif terkena antraks.

Penyakit antraks atau radang limpa pada sapi penyebabnya adalah “Bacillus anthracis”. Kuman antraks bisa membentuk spora yang bisa bertahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah. Kuman itu juga tahan terhadap kondisi atau lingkungan yang panas, bahan kimia atau desinfektan. (AF)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close