Virus Demam Babi Afrika Dipastikan Tak Berbahaya bagi Manusia

Virus Demam Babi Afrika Dipastikan Tak Berbahaya bagi Manusia

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Virus demam babi Afrika atau African swine fever (ASF) yang menjangkiti ternak babi dipastikan bukanlah penyakit yang bersifat zoonosis atau menular ke manusia.

Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian Justan Riduan Siahaan mengemukakan bahwa daging babi pada ternak yang terserang virus ini tetap aman dikonsumsi manusia.

“Zoonosis merupakan penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya. Namun, ASF bukan termasuk penyakit tersebut,” kata Justan kala mengisi kegiatan ‘Kampanye Makan Daging Babi yang Aman dan Sehat’ di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, seperti dikutip dalam keterangan resminya, Senin (30/12/2019).

Dia menjelaskan bahwa virus ini muncul pertama kali di Afrika pada 1921 sehingga disebut demam penyakit babi Afrika. Virus ini masuk pertama kali ke Indonesia pada 2019, namun hingga saat ini belum diketahui asal penyebarannya.

“Hingga saat ini kemungkinan penyebaran virus ASF di Indonesia disebabkan oleh makanan sisa yang diberikan ke ternak yang berasal dari negara luar,” terangnya.

Berangkat dari hal ini, Justan meminta masyarakat agar berpartisipasi aktif untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas agar tidak takut mengonsumsi daging babi. Apalagi, ternak babi merupakan salah satu penopang perekonomian di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Di tempat yang sama, Yuni Yupiana salah seorang Medik Veteriner dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menerangkan bahwa Virus ASF memiliki ukuran sangat kecil dan penyebarannya bisa melalui kontak langsung dengan ternak babi atau melalui makanan sisa yang terkontaminasi. Bahkan, penyebarannya bisa tidak disadari sama sekali.

“Bisa melalui peralatan kandang di mana virus ini sudah menempel. Kendaraan juga bisa, bahkan manusia dapat membawa penyebaran virus,” jelasnya.

Yuni menyebutkan salah satu contoh dari penyebaran melalui manusia, yakni jika seorang peternak pergi ke wilayah yang sudah terjangkit virus ASF dan berkunjung ke wilayah yang belum terjangkit virus ASF tanpa melakukan pembersihan terlebih dahulu, maka wilayah yang belum terinfeksi bisa ikut terjangkit.

“Jadi, untuk peternak hewan babi jika mau ke peternakannya upayakan menggunakan peralatan khusus di peternakannya sehingga kebersihannya lebih terjamin,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yuni mengungkapkan makanan yang terkontaminasi virus juga dapat menjadi media penyebaran virus. Berangkat dari hal ini, dia pun menyarankan agar ternak babi tak tidak diberikan makanan sisa, terutama makanan yang berasal dari negara luar.

“Namun, jika memang tidak ada pilihan, maka makanan tersebut harus dimasak hingga mendidih terlebih dahulu baru diberikan ke ternak,” tutur Yuni

Yuni juga menjabarkan tentang biosekuritas yang dapat dilakukan untuk mencegah masuk dan menyebarannya virus ASF, di antaranya melalui penjagaan sanitari kandang dengan membersihkan secara rutin dengan sabun dan desinfektan, tidak melepas ternak babi secara liar, serta mengendalikan lalu lintas ternak antar daerah dengan mengaktifkan pos lintas ternak.