Hukum

Vanessa Angel Tersangka Prostitusi Online

SURABAYA, SENAYANPOST.com – Penyidik Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim menetapkan artis Vanessa Angel sebagai tersangka kasus dugaan prostitusi online. Bintang FTV tersebut diduga ikut menjadi penyedia artis dalam bisnis pelacuran ini.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menuturkan, Vanessa dijerat Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Dia terbukti mengeksplor dirinya untuk kepentingan prostitusi online,” kata Irjen Pol Luki di Mapolda Jatim Surabaya, Rabu (16/1/2019).

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki umumkan artis Vanessa Angel tersangka prostitusi online (Senayanpost/Purnomo)

Hal itu diputuskan penyidik setelah dilakukan gelar perkara kasus prostitusi online artis, akhirnya status dari Vanessa Angel dari saksi menjadi tersangka.

Hal ini diterangkan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Luki Hermawan pihaknya setelah melakukan gelar perkara dan beberapa pendapat ahli pidana, ahli ITE dan ahli bahasa serta kementerian agama dan beberapa bukti sangat mengkaitkan dalam transaksi ini menguatkan Vanessa statusnya jadi tersangka.

” Hari ini sudah kita layangkan panggilan sebagai tersangka untuk Vanessa Angel untuk datang pada hari Senin,”tegas Kapolda Irjen Pol Luki.

Pasal yang memberatkan Vanessa Angel adalah 27 ayat 1 UU ITE. Selain itu, Vanessa secara langsung dirinya dengan mucikari, atau pengiriman foto dirinya, pada tersangka yang sudah kita amankan.

Sedangkan data digital forensik tercatat ada 9 kali transaksi Vanessa terlibat bisnis prostitusi. Sedangkan peran Vanessa penyediakan prostitusi. “Dari sini akan dijadikan dasar pemeriksaan penyidikan,” tegas Ditreskrimsus Kombes Pol. Akhmad Yusef Gunawan.

Dari data dari Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menyebutkan, hasil pengembangan yang dilakukan ternyata seluruh konsumennya berasal dari hampir seluruh kota di Indonesia.

Bahkan, ada pula konsumen yang berasal dari luar negeri. “Kalau dilihat, ini konsumennya dari semua kota, tergantung pesanannya, bahkan di luar negeri juga ada, kami dapatkan data dari luar negeri,” ujar Irjen Pol Luki Hermawan.

Lantas, bagaimana pembayaran atau transaksi yang dilakukan bila pelanggan berada di luar negeri? Luki menegaskan, transaksi yang dilakukan dua tersangka maupun korban dan pelanggan menggunakan transfer atau digital.

Sebelum melakukan hubungan intim, para pelanggan diwajibkan membayar Down Payment (DP) sekitar 30 persen dari total tarif yang dipatok.

“Semuanya menggunakan digital, pembayarannya pun digital, uang di muka 30 persen, setelah itu sisanya,” tandasnya.

Luki mengungkapkan, untuk pembagiannya ia masih mendalaminya. Namun, hasil terbaru yang diperolehnya menyebutkan bila uang yang diperoleh dibagi rata antara artis atau model maupun mucikari.

“Masing-masing orang punya pembagiannya, kayak kemarin ada, kepada ininya (artis) langsung Rp 35 juta, sisanya dibagi-bagi,” sebutnya. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close