Vaksinasi Itu Keniscayaan

Vaksinasi Itu Keniscayaan

HARAPAN akan berkurangnya manusia yang terpapar Covid-19 mulai tampak dengan hadirnya sejumlah vaksin pencegah Covid-19. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, mulai melakukan vaksinasi terhadap jutaan warga masing-masing. Negara kaya berbagi vaksin dengan negara miskin. 

Tokoh-tokoh negara, mulai dari presiden, raja, ratu, pemuka agama, tenaga kesehatan, aparat keamanan dan pemerintahan, pengusaha, politisi, olahragawan, sampai warga biasa mengikuti vaksinasi.
 
Memang ada banyak orang yang tidak bersedia divaksinasi dengan berbagai alasan. Tapi mayoritas warga dunia sadar bahwa pilihannya saat ini vaksinasi yang dapat mencegah semakin banyaknya orang yang terpapar. 

Terdampaknya semua sektor kehidupan menyurutkan rasa takut dan ragu. Sambil terus berupaya melakukan pencegahan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencegah kerumunan, menjaga kebersihan, dan menyembuhkan yang sudah terpapar, vaksinasi dilakukan secara masif.

Allah tidak akan menurunkan penyakit kecuali Allah juga turunkan obatnya, (Ma’anzalahu daa an, illa anzala lahu syifaan). Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori ini kiranya cukup menjadi dasar kita mesti mempercayai vaksin. Terutama bagi umat Islam, jumlah terbesar penduduk Indonesia. Penganut agama lain mestinya juga mengetahui tokoh-tokoh agama mereka telah memelopori kesediaan divaksin. 

Vaksin memang bukan obat penyembuh, tapi bisa disebut “obat” pencegah. Tentu ini bisa dipahami oleh mereka yang memercayai adanya Covid-19 dan bahayanya bagi kemanusiaan. Kemungkinan mereka yang menolak vaksin di Indonesia atau di negara lain adalah mereka yang memang tidak memercayai adanya Covid. 

Covid dianggap bohongan, rekayasa pemerintah, WHO, industri obat, dan sebagainya. Tidak percaya ada covid juga  tidak memerlukan vaksinasi pencegahan covid. Bukti-bukti jutaan manusia yang terpapar dan meninggal di semua negara tidak menjadi hitungan mereka untuk meninggalkan sesat pikir yang terus mereka pelihara. Lalu mereka tak mau memakai masker, menjaga jarak, dan menjaga kebersihan.
 
Menghadapi kelompok penolak vaksin memerlukan kesabaran. Meski bisa menggunakan upaya paksa berdasar ketentuan perundangan, tapi pendekatan penyadaran tetap perlu didahulukan. Ya upaya paksa lewat pendekatan pidana mesti dipandang sebagai ultimum remidium, bahwa hukum pidana hendaklah dijadikan upaya terakhir dalam hal penegakan hukum. Mesti dicoba pendekatan lain lewat pendekatan agama, budaya, dan lainnya. 
Perncegahan covid bukan hanya persoalan kesehatan, tapui juga masalah kemanusiaan. Presiden Jokowi sampai meminta bantuan ormas seperti NU untuk membantu menyadarkan warganya untuk bersedia divaksin. Ini menandakan bahwa pemerintah tidak mungkin menyukseskan vaksinasi sendirian. Perlu peran serta para ulama dan tokoh agama untuk menyampaikan pesan kemanusiaan itu kepada masyarakat. 

Untuk kepentingan vaksinasi ini pemerintah telah menghabiskan dana triliunan rupiah di Indonesia. Untuk pengadaannya, pendistribusiannya maupun pelaksanaan vaksinasinya. Semua digratiskan. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/12758/2020 telah ditetapkan vaksin Corona yang beredar di Indonesia. 

Jenis vaksin covid-19 yang digunakan di Indonesia yaitu vaksin yang diproduksi PT Bio Farma, Oxford-AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax, Pfizer-BioNTech, dan Sinovac. Kita tidak perlu mempersoalkan vaksi mana di antara tujuh merk vaksin itu. Semua yang ditetapkan untuk digunakan sudah masuk standard kesehatan dan dalam pengawasan organisasi kesehatan dunia, WHO.

Kita semua berkepentingan agar program vaksinasi dapat berjalan dengan baik, semua warga yang tidak terkendala persyaratan, diharapkan mendapatkan vaksin pencegah Covid-19. Semua akan mendapat giliran sesuai urutan skala prioritas yang sudah dirancang. 

Sementara ini kunci pencegahan penularan Covid-19 adalah vaksinasi,  tentu disertai doa kepada Yang Maha Kuasa dan upaya pencegahan yang dilakukan setiap individu.  Jadi vaksinasi itu keniscayaan bukan hanya pilihan untuk saat ini. 

Adalah tidak elok jika ada pemuka masyarakat, tokoh buruh, atau lembaga swadaya masyarakat yang memprovokasi warga masyarakat hanya karena berkaitan dengan persoalan tahapan dan skala prioritas itu.
 
Salam sehat.