Vaksinasi dan GNose di Wilayah Terpencil

Vaksinasi dan GNose di Wilayah Terpencil
Amir Uskara

Oleh HM Amir Uskara

VAKSINASI berjalan mulus. Harapan pun cerah: Indonesia akan kembali "pulih" dari cengkeraman Covid-19. 

Betul, ada sebagian orang yang menolak vaksinasi. Tapi jumlahnya relatif sedikit. Kurang dari 30 persen dari populasi. Padahal target vaksinasi adalah 70 persen dari populasi untuk membentuk herd coummunity (kekebalan komunal). 

Meski demikian, andai  program vaksinasi berhasil, hal itu tidak serta merta Indonesia terbebas sama sekali dari virus corona. Ini karena  virus corona adalah spesies "pendatang baru"  yang berada di tengah manusia. Sebelumnya virus ini, berada di lingkungan hewan tertentu, terutama kelelawar. Akibat kerusakan lingkungan, virus ini mampu bermigrasi dan berkembang biak di tubuh manusia. Dan untuk seterusnya, virus ini akan tetap berada di tengah manusia. 

Karena itu, meski seseorang kebal terhadap serangan virus corona setelah vaksinasi, ia harus tetap waspada. Jangan sampai lengah menerapkan 3 M -- mencuci tangan, menjaga jarak, dan  memakai masker. Tiga M ini akan jadi. "pakaian" wajib di era new normal pascacorona. 
Bahkan epidemolog Dicky Budiman dari Griffith University, Australia menambahkan 2 M lagi -- yaitu menjauhi kerumunan dan membatasi interaksi. Dua hal terakhir ini agaknya sulit dilakukan orang Indonesia yang senang berkumpul dan bersapa satu sama lain. 

Selain itu, kehidupan new normal pasca pandemi, butuh alat deteksi baru virus corona yang simpel, mudah dioperasikan,  akurat, dan harganya terjangkau. Ini penting agar orang yang terpapar virus di komunitas,  atau di satuan keluarga atau di kelompok orang di kota dan desa cepat terdeteksi. 

Hal tersebut mempermudah pimpinan kelompok atau RT/RW menangani kasus positif dengan protokol kesehatan. Dengan demikian, penularan virus bisa diblok. 

Kita ingat, satu orang positif corona di satu komunitas dalam sehari bisa menular ke puluhan orang jika tidak mengisolasi diri. Karena itulah, tiap komunitas butuh alat deteksi dini virus yang handal, portable, akurat, mudah digunakan,  dan harganya terjangkau. 

Alat deteksi virus di era new normal yang dimaksud tersebut adalah G-Nose. Kenapa G-Nose? Ia handal, mudah digunakan, akurat, cepat, dan murah. Lebih lagi, GNose buatan dalam negeri. Karya anak bangsa. Dengan adanya GNose, misalnya,  warga masyarakat, khususnya di daerah terpencil, akan mampu mendeteksi munculnya virus tersebut. Tanpa repot dan berbiaya mahal.

Saat ini, GeNose – alat deteksi virus Covid-19 – made in UGM Yogya yang murah meriah tersebut,  sudah mulai banyak dipakai di Indonesia. Setelah puluhan stasiun besar PT Kereta Api Indonesia memakai GNose Covid-19, kini banyak pelabuhan udara dan laut siap memakainya. Supermarket dan mall juga berencana memakai GNose untuk mendeteksi  keterpaparan virus dari pengunjungnya.

Pemda Kepulauan Riau bahkan melangkah lebih jauh. Di samping siap memakai GNose untuk pelabuhan ikan dan penumpang kapal laut, alat pendeteksi virus corona itu akan dipakai di mal, pasar, dan pertemuan yang pesertanya 50 orang lebih. Termasuk acara pesta sunatan dan mantenan.  Sejumlah daerah di Pulau Sumatera sudah memakai GNose untuk pelabuhan laut dan udara; begitu juga di Sulawesi dan Kalimantan. 

Semua ini jelas menggembirakan kita. Produk detektor Covid-19 buatan Indonesia asli mendapat kepercayaan publik di nusantara. Ini sebuah "kepercayaan"  yang berharga. Karena tidak semua inovasi teknologi karya anak bangsa mendapat apresiasi publik. 

Kepercayaan ini tumbuh setelah Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional  (Ristek/Brin) merekomendasi GNose. Kementerian Kesehatan juga merekomendasi pemakaian GNose untuk mendeteksi paparan virus corona. 
 
Sejak alat tes covid-19 besutan  FMIPA-Fisika UGM  tersebut digunakan di beberapa stasiun kereta api seperti Stasiun Pasar Senen, Jakarta, stasiun Tugu Yogyakarta, dan Stasiun Balapan Solo, Februari 2021,   warga tampaknya makin antusias mendeteksi dirinya terhadap paparan corona. Ini karena, di samping biayanya murah, hanya Rp 20.000 per test, prosesnya juga mudah. 

Orang hanya diminta meniupkan nafasnya di kantong plastik  khusus yang sudah tersedia, lalu udara tersebut dianalisis oleh GNose. Hanya dalam tiga menit hasilnya sudah diketahui. Luar biasa cepat dibanding test virus dengan alat-alat dan reagen konvensional seperti tes polymerase chain reaction (PCR) dan rapid test (antibodi dan antigen)

GNose, kata Menristek/BRIN Bambang Brojonegoro, bisa menjadi alat rapid test Covid-19 yang mudah dan cepat operasinya. Jauh lebih cepat dari yang ada selama ini. Prosesnya juga sederhana, hanya mengetes pernafasan, hingga tidak menyusahkan orang. 

Menristek menuturkan, G-Nose telah mengakomodir teknologi artificial intelligence (AI) guna mendeteksi hembusan napas manusia yang terindikasi terpapar Covid-19 melalui plastik khusus sebagai penampung. Selain itu, teknologi ini juga dinilai ramah biaya.   

Tarif pemeriksaan virus corona menggunakan alat tersebut, tambah Bambang,  biayanya  hanya sebesar Rp15.000 sampai Rp 20.000  tiap test. Murah sekali. Sementara  harga mesin G-Nose sekitar   Rp 60 juta. Mesin ini bisa dipakai untuk 100.000 kali test.  Ia dapat digunakan kembali setelah ada perbaikan.

“Perkiraan biaya per pemeriksaan dengan menghitung operator -- termasuk  kantong plastik  yang harganya Rp7.000-an sekali pakai -- sekitar Rp15.000 setiap test.  Ini salah satu alat deteksi virus corona termurah di dunia. Tapi akurasinya 97 sampai 98 persen. Sangat  akurat,” jelas Menristek.

Mengutip publikasi UGM, GeNose merupakan electronic nose yang tersusun atas empat bagian, yaitu (1) sistem sampling, (2) sistem larik sensor gas, (3) sistem akuisisi data dan (4) sistem pengenal pola. Cara kerja alat tersebut sama dengan hidung manusia, yaitu harus dilatih dan diuji.

Proses kerja GNose seperti ini. Setelah "udara hasil tampungan dari hembusan nafas seseorang" berada dalam wadah/plastik; lalu dimasukkan dalam GNose, sekitar 2-5 menit kemudian sistem sampling akan mengalirkan Volatile Organic Compound (VOC) sampel udara tadi ke dalam sistem larik sensor gas/udara.  

Selanjutnya VOC akan direspon oleh 8 sensor yang ada di GNose  secara paralel,  dengan tahapan sebagai berikut: mulai dari penstabilan sensor (baseline), lalu proses merespon VOC sampel (sensing), hingga pembersihan ruang sensor (saturasi dan purging).  

Sistem aplikasi GeNose terhubung dengan sistem cloud computering sehingga hasil diagnosis yang didapatkan dalam bentuk real time.

Peneliti GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra, menjelaskan GeNose bekerja mendeteksi VOC yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama nafas seseorang. Lalu, VOC tersebut  diidentifikasi oleh sensor-sensor yang ada di  GNose. Ia diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence). Dari situlah hasilnya disimpulkan.

Kinerja GeNose telah terbukti handal melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel di Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro,  Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan:  tingkat akurasi GNose  tinggi, mencapai 97 persen. Ini semua menunjukkan GNose bukan instrumen deteksi virus yang kaleng-kaleng. Sebaliknya, GNose adalah instrumen yang inovatif, modern, canggih, dan prospektif. 

Kinerja GNose yang mengesankan itu, mendapat sambutan pemerintah dan masyarakat Indonesia. Publik makin percaya terhadap kehandalan GNose dalam mendeteksi virus yang menyerang manusia. 

Dari gambaran di atas, GNose sebetulnya bisa dimanfaatkan secara massal di seluruh Indonesia. Dalam rangka mencegah penularan virus secara dini, sebaiknya GNose di tempatkan di setiap desa atau kelurahan di Indonesia. Minimal di tingkat kecamatan atau di setiap klinik Puskesmas. 

Dengan harga Rp 60 juta per unit, seluruh desa di Indonesia yang saat ini mendapat alokasi dana dari Pusat sekitar Rp 1 Milyar, niscaya mampu membeli GNose. 

Persoalannya, mungkin,  siapa yang akan mengoperasikannya?  Ya, dokter di Puskesmas, perawat, dan petugas kesehatan lain. Di desa terpencil, jika operator GNose-nya belum ada, bisa memanfaatkan kader Posyandu, Karang Taruna, kader desa, aktivis LSM, dan lain-lain.

Dengan training singkat, mereka niscaya mampu mengoperasikan GNose. Bila ada masalah, melalui komunikasi digital via hape android dan komputer -- yang kini terhubung dengan jaringan internet yang sudah menjangkau desa dan kampung seluruh Indonesia --  persoalan tersebut, Insya Allah,   akan bisa diatasi.

Dengan demikian, efektivitas vaksinasi dalam memblok penularan corona akan lebih terintegrasi. Di satu sisi, vaksin bisa memblok  invfeksi Covid-19  melalui peningkatan  kekebalan tubuh  terhadap serangan virus. Di sisi lain, tracking dan tracing kasus positif lebih efektif melalui deteksi  GNose yang ada di seluruh pelosok Nusantara.

Semoga Indonesia segera terbebas dari pandemi. Insya Allah!


Penulis adalah Anggota DPR RI