Vaksin Covid-19: Negara Kaya di Antrean Terdepan

Vaksin Covid-19: Negara Kaya di Antrean Terdepan

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pengembangan vaksin Covid-19 oleh negara kaya menjadikan mereka ada di antrean terdepan. Tak bisa dipungkiri, mereka telah menganggarkan investasi jumbo untuk mengamankan suplai.

Dilansir dari Bloomberg, Minggu (2/8/2020), kendati sejumlah negara berjanji akan memenuhi kebutuhan vaksin Covid-19, dosis yang ada akan sulit untuk memenuhi kebutuhan 7,8 miliar orang di dunia.

Negara kaya diprediksi akan memonopoli suplai vaksin, layaknya yang terjadi pada pandemi flu babi pada 2009.

Bahkan, data Airfinity mengungkapkan Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, dan Jepang telah mengamankan calon vaksin sebanyak 1,3 miliar dosis untuk imunisasi Covid-19.

“Meski optimistis terhadap progres ilmiah, vaksin masih belum cukup untuk dunia,” kata CEO Airfinity Rasmus Bech Hansen.

Apalagi, kebanyakan vaksin paling tidak butuh dua dosis agar efektif. Saat ini, kemitraan perusahaan farmasi seperti Sanofi dan GlaxoSimithKline Plc., serta Jepang dengan Pfizer Inc., menjadi perusahaan yang paling progresif dalam pengembangan vaksin. Begitu pula dengan UE.

Selain itu, Universitas Oxford yang bermitra dengan AstraZeneca Plc serta kolaborasu Pfizer-BioNTech SE telah sampai pada studi akhir.

Namun, mereka masih harus menguji apakah produknya efektif, mendapat persetujuan, dan meningkatkan produksinya. Airfinity memprediiksi, suplai vaksin di dunia tidak mampu memenuhi kebutuhan dunia yang sebesar 1 miliar dosis hingga kuartal I/2022.

Investasi untuk meningkatkan produksi menjadi langkah paling penting bagi perusahaan farmasi untuk memecahkan dilema ini.

WHO, Koalisi Inovasi Persiapan Epidemi, Gavi, dan Persekutuan Vaksin tengah bekerja sama dalam kerangka yang disebut COVAX. Koalisi ini memperjuangkan akses vaksin yang merata dan luas.

COVAX juga telah menganggarkan US$18 miliar pada Juni untuk imunisasi dan mengamankan 2 miliar dosis pada akhir 2021.

CEO Gavi Seth Berkley mengatakan negara-negara harus meneken serangkaian perjanjian dengan produsen vaksin agar bisa mendapatkan jatah pasokan, mengingat beberapa imunisasi bisa jadi tidak berhasil.

“Hal yang paling kami khawatirkan adalah melakukan berbagai kesepakatan. Harapan kami adalah dengan portofolio vaksin, kami bisa membuat negara-negara bersatu,” katanya.

Sebanyak 78 negara telah bergabung dalam COVAX. Selain itu lebih dari 90 negara terdiri dari negara berpendapatan rendah bisa mendapatkan vaksin melalui program yang dipimpin oleh Gavi ini.

Investasi Jumbo

AstraZeneca telah menanda tangani perjanjian dengan Gavi untuk menyediakan 300 juta dosis. Pfizer dan BioNTech kemungkinan akan segera menyusul.

Pemerintah AS diketahui telah setuju menyiapkan US$2,1 miliar untuk bermitra dengan Sanofi dan Glaxo. Pendanaan ini untuk menyiapkan uji klinis dan proses produksi sehingga bisa menyumbang 100 juta dosis.

Tidak hanya itu, investasi dengan Pfizer dan BioNTech telah disepakati senilai US$1,95 miliar untuk pemerintah AS.

Novavax Inc., juga telah mengumumkan investasi senilai US$1,6 miliar dam U$1,2 miliar untuk AstraZeneca untuk memacu pengembangan dan produksi.

Uni Eropa juga berpotensi meneken kesepakatan 300 juta dosis dengan Sanofi – Glaxo.

“UE berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap orang yang membutuhkan vaksin mendapatkannya, di mana saja di dunia dan tidak hanya di rumah,” kata Berkley, seperti dikutip bisnis.com. (Jo)