Utang AS Diperkirakan 102

Utang AS Diperkirakan 102
Ilustrasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Badan Anggaran Kongres AS atau The Congressional Budget Office (CBO) memprediksi defisit anggaran AS tahun ini mencapai US$3,13 triliun. 

Defisit membengkak karena nominal belanja diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan penerimaan negara.

Mengutip CNN Indonesia Jumat (9/10), perkiraan defisit itu setara dengan lebih dari 3 kali lipat dari defisit tahunan sepanjang 2019 lalu. Jika prediksi defisit benar terjadi, maka ini menjadi yang tertinggi sejak setelah perang dunia kedua.

Jumlah belanja pemerintah AS terus meningkat di masa pandemi. Mulai musim semi ini, pemerintah federal menghabiskan lebih dari US$4 triliun untuk membantu pekerja dan dunia usaha menghadapi tekanan ekonomi akibat corona.

Sebagian besar pihak pun setuju pemerintah AS perlu membelanjakan dana lebih banyak sampai Gedung Putih berhasil mengendalikan krisis di masa pandemi covid-19.

Hanya saja, Departemen Keuangan AS tidak akan mengeluarkan angka akhir untuk tahun fiskal 2020 sampai akhir bulan ini. Namun, jika perkiraan CBO tepat, maka total utang negara diperkirakan melampaui ukuran perekonomian yang mencapai hampir 102 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Utang AS sebelumnya belum pernah mencapai 102 persen dari PDB sejak 1946 silam. Pada 1946, utang Federal sebesar 106,1 persen dari PDB.

"Utang adalah ukuran ekonomi saat ini dan segera akan lebih besar dari waktu manapun dalam sejarah," ungkap Presiden CRFB Maya MacGuineas.

Masalah utang AS akan membatasi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan negara di masa mendatang. Sementara, belanja negara diproyeksi semakin meningkat dan jauh dari pendapatan negara.

Ini artinya, ada risiko gangguan keuangan AS di masa depan. Dengan demikian, risiko fiskal di AS juga kian membesar.

"Tidak ada titik kritis yang pasti di mana krisis fiskal menjadi mungkin atau akan segera terjadi, juga tidak ada titik yang dapat diidentifikasi di mana biaya bunga sebagai presentase dari PDB menjadi tidak berkelanjutan. Tapi saat utang tumbuh, risikonya menjadi lebih besar," pungkas Direktur CBO Phillip Swagel.