Lintas Daerah

Usai Dikukuhkan Jadi Guru Besar UNS, Prof Wiryanto Wafat

SOLO, SENAYANPOST.com – Prof Wiryanto yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis (29/3/2018) siang, sorenya meninggal dunia.

Sebelumnya, Wiryanto menyelesaikan prosesi pengukuhan guru besar sekitar pukul 12.00 WIB siang. Namun sekitar pukul 16.00 WIB, Wiryanto dikabarkan meninggal di RSUD dr Moewardi, Solo.

Kabar meninggalnya Wiryanto ini dibenarkan oleh Rektor UNS Prof Ravik Karsidi saat ditemui di UNS.

“Iya benar beliau meninggal dunia. Kami juga kaget karena beliau baru saja pidato pengukuhan, lalu tiba-tiba ada kabar meninggal,” kata Ravik.

Wiryanto terkena serangan jantung saat hendak berfoto bersama di studio foto di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Dia langsung dibawa ke RSUD dr Moewardi.

“Beliau sempat pulang ke rumah. Tapi kemudian rencananya mau berfoto bareng di studio foto. Saat mengambil toga lalu terkena serangan jantung,” ujar dia.

Selama berpidato, kata Ravik, Wiryanto tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Bahkan dari rencana pidato 30 menit, Wiryanto menyelesaikannya dalam 50 menit.

“Memang uraiannya komprehensif tapi membaca. Yang jadi agak lama mungkin karena itu. Saya tidak punya feeling apa-apa saat itu,” ujar rektor.

Wiryanto mendapatkan gelar guru besar pada saat menjelang masa pensiunnya. Dia genap berusia 65 tahun pada 1 Agustus 2018 nanti.

Ada pun dalam pidatonya, Guru Besar dari Fakultas MIPA UNS itu menyampaikan pidato berjudul ‘Kelola Sumber Daya Air Perlu Kearifan Lokal’. Wiryanto pun menjadi guru besar ke-191 UNS.

Dia memaparkan kondisi sumber daya air saat ini semakin terbatas. Dia menekankan pentingnya budaya dan kearifan lokal untuk menjaga sumber daya air.

“Kearifan lokal muncul dari proses internalisasi yang panjang dan berlangsung turun temurun hasil interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Hingga terkristalisasi dalam bentuk hukum adat, kepercayaan, dan budaya setempat,” kata Wiryanto dalam pidatonya.

Dia mencontohkan objek wisata Kahyangan di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Masyarakat meyakini cerita-cerita mistis yang ternyata dapat berfungsi untuk menjaga kelestarian mata air.

“Dengan terjaganya kearifan lokal, terbukti sumber daya air di Kahyangan masih terjaga,” ungkapnya.

Dia juga mengolaborasikan 5 unsur yang dapat menjaga kelestarian sumber daya air. Kelima hal itu adalah pemerintah atau pemimpin, pakar (cendekiawan, rohaniawan dan hudayawan), media massa, dunia usaha (hartawan), dan masyarakat. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close