Opini

Urgensi Tafsir Agama Terhadap Pancasila

Oleh: Al-Zastrouw

MEMASUKI usianya yang ke 75, Pancasila masih menghadapi berbagai tantangan dan rongrongan yang membuatnya rapuh dan ringkih. Ibarat pohon, masih banyak ulat dan parasit yang menggangu dan menghambat pertumbuhan ‘pohon’ Pancasila untuk menjadi pohon yang rindang dengan buahnya yang lebat yang bisa menjadi tempat berlindung bagi siapa saja yang kepanasan dan menikmati buahnya saat kelaparan. Ibarat bangunan, Pancasila masih belum bisa menjadi fondasi yang kokoh karena terus dirongrong dan digeroti sehingga menjadi semakin rapuh dan lemah.

Selain politisi busuk, pengusaha dan pejabat serakah yang merongrong Pancasila demi kekuasaan dan keuntungan pribadi dan kelompk, musuh utama Pancasila saat ini adalah faham puritanisme dan fundamentalisme Islam. Faham inilah yang sampai sekarang merong-rong Pancasila dengan berbagai tuduhan yang bersifat teologis, seperti Pancasila thoghut, kafir sesat dan sejenisnya. Pendeknya, kaum fundamentalis-puritan Islam, Pancasila selalu dihadapkan vis a vis dengan Islam, kemudian dibenturkan secara konfrontatif.

Membandingkan Pancasila dengan Islam sebenarnya merupakan tindakan melecehkan Islam, karena menghadapkan Islam sebagai agama yang sakral, buatan Tuhan dengan Pancasila sebagai sesuatu yang profan, buatan manusia. Perbandingan yang tidak sebanding, tidak aple to aple. Tapi hal itu tetap saja mereka lakukan, bahkan ada yang merasa itu bagian dari perjuangan dan jihad Islam. Sikap inilah yang membuat kaum fundamentalis-puritanis Islam selalu merong-rong Pancasila dengan tindakan agitatif dan provokatif berlabel Islam.

Melihat kenyataan ini, rasanya diperlukan tafsir Pancasila dari perspektif Islam. Maksudnya adalah membuat tafsir agama yang relevan dengan Pancasila. Tafsir ini diperlukan sebagai counter narasi atas tafsir agama kaum fudamentalis-puritan Islam yang selalu menyatakan bahwa Pancasila adalah kafir dan toghut karena bukan ajaran Islam. Padahal pandangan seperti ini sebenarnya merupakan bentuk penafsiran Pancasila berdasarkan tafsir Islam yang mereka dipahami.

Artinya, Klaim bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam itu sebenarnya merupakan tafsiran terhadap Islam, bukan Islam itu sendiri. Dengan demikian klaim kaum fundamentalis-puritan bahwa apa yang mereka sampaikan adalah ajaran Islam, sebenarnya merupakan bentuk pengagamaan terhadap tafsir agama. Karena mereka telah menjadikan tafsir agama yang mereka konstruksi sebagai agama yang digunakan untuk menyerang Pancasila.

Proses pengagamaan tafsir agama yang kontra Pancasila ini sekarang semakin masif dan intentsif. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya masyarakat yang percaya pada propaganda kaum fundamentalis-puritan yang menyatakan memusuhi Pancasila adalah bagian dari perintah agama. Bahkan ada yang berkeyakinan menggantikan Pancasila dengan Islam versi tafsiran dan pemahaman mereka adalah bagian dari jihad yang diperintahkan Islam. Gerakan ini sudah terjadi secara terang-terangan dan intensif, mulai di ruang diskusi, majlis liqa’ dan kajian Islam, dunia maya sampai aksi politik di jalanan. Berbagai tindakan ini semakin meyakinkan masyarakat bahwa tafsir mereka terhadap Islam yang memusuhi Pancasila itu adalah benar-benar.

Selain tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah, masifnya gerakan pengagamaan tafsir agama versi kaum fundamentalis-puritan yang merong-rong Pancasila ini juga disebabkan tidak adanya tafsir alternatif yang bisa menjadi counter terhadap tafsir kaum fundamentalis-puritan yang diklaim sebagai ajaran Islam. Tidak jarang gerakan pengagamaan tafsir Islam ini bersekutu dengan para politisi busuk, pejabat dan pengusaha serakah untuk merealisasikan ambisi masing-masing yang pada ujungnya melemahkan Pancasila. Hal ini juga yang membuat gerakan kaum fundamentalis puritan menjadi semakin gencar dalam merong-rong Pancasila. Berbagai fenomena ini menuntut perlunya dimunculkan tafsir agama terhadap Pancasila sebagai counter terhadap tafsir kaum fundamentalis puritan yang sudah mengalami proses pengagamaan dan rentan ditunggangi berbagai kepentingan politik yang mengancam Pancasila.

Tafsir agama terhadap Pancasila ini memiliki fungsi ganda; pertama, untuk meyakinkan masyarakat bahwa Pancasila itu tidak bertentangan dengan Islam, Pancasila justru menjadi bagian dari ajaran Islam; kedua, sebagai tafsir alternatif yang bisa meningkatkan daya kritis masyarakat terhadap proses pengagamaan tafsir agama kaum fundamentalis-puritan. Dengan cara ini proses pengagamaan tafsir agama yang bisa merong-rong Pancasila dapat dihambat.

Tafsir agama terhadap Pancasila perlu lakukan pada dua aspek, yaitu aspek historis dan ideologis. Aspek historis perlu ada tafsir agama terkait proses perumusan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara. Pada aspek ini diperlukan penggalian sejarah mengenai peran ulama, kyai, habaib dan para tokoh Islam dalam perumusan Pancasila dan proses penetapannya sebagai dasar negara.

Tafsir agama dalam aspek sejarah ini dimaksudkan untuk memberikan bukti sejarah yang bisa meyakinkan masyarakat bahwa Pancasila itu bukan produk sekuler, tetapi merupakan hasil ijtihad para ulama, kyai dan tokoh Islam. Sebagai produk pemikiran para ulama, kyai, dan tokoh-tokoh Islam, mustahil Pancasila itu sekuler, apalagi bertentangan dengan Islam.

Minimnya catatan sejarah mengenai peran para ulama dan kyai dalam sejarah perumusan Pancasila akan semakin memperkuat asumsi kaum fundamentalis-puritan bahwa Pancasila adalah sekuler, thaghut dan kafir. Dengan kata lain, semakin mengedepankan peran kaum nasionalis dan menutup peran sejarah para ulama dan kyai dalam perumusan Pancasila maka akan semakin kuat kaum fundamentalis-puritan membangun gerakan politik yang menghembuskan bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam. Asumsi ini hanya bisa dipatahkan dengan bukti historis keterlibatan dan peran para ulama dan kyai dalam perumusan Pancasila.

Selain peran para kyai dan ulama dalam perumusan Pancasila, hal lain yang tidak kalah penting diungkap dalam tafsir agama terhadap Pancasila pada aspek historis, adalah mengungkap perjuangan para kyai dan ulama dalam mempertahakankan dan mensosialisasikan Pancasila. Terlalu banyak para kyai dan ulama yang berkorban diri mempertahankan Pancasila. Mereka tidak hanya berkorban harta dan nyawa, tapi juga privelege sosial dan harga diri. Mereka dinista, difitnah dan dituding sebagai antek pemerintah, liberal dan ulama suu’ (jahat) karena mempertahankan dan memperjuangkan Pancasila. Menggali data sejarah mengenai sikap istiqamah (konsisten) para kyai dalam memperjuangkan dan mempertahankan Pancasila bisa menjadi sumber inspirasi masyarakat untuk melawan tafsir agama kaum fundamentalis-puritan.

Tafsir agama dalam aspek Ideologis adalah membangun tafsir agama yang menjadi fondasi atas nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Misalanya, menunjuk beberapa ayat, hadits, pendapat ulama dan kitab-kitab rujukan dan dasar atas sila-sila yang ada dalam Pancasila. Melalui tafsir ideologis ini dapat dibuktikan bahwa Pancasila merupakan bagian dari ajaran Islam dan sarana untuk mengamalkan ajaran Islam. Dengan demikian mengamalkan Pancasila pada hakekatnya adalah mengamalkan ajaran Islam.

Sebenarnya tafsir agama terhadap Pancasila dalam aspek ideologis ini sudah banyak dilakukan oleh para kyai dan ulama Nusantara. Tafsir ini tidak hanya diberikan saat pengajian, atau di forum ilmiah bahtsul masail, tetapi juga ditulis dalam beberapa karya tulis, misalnya kitab Nadzam Sunda yang berisi tentang ayat-ayat dan ajaran Islam yang terkandung dalam Pancasila. Ditulis dalam bentuk syair dengan bahasa Sunda menggunakan huruf Arab. Pemikiran Kyai Ahmad Shiddiq mengenai hubungan Pancasila dan Islam yang tertulis dalam buku Nahdlatul Ulama Kembali Ke Khittoh 1926 (Risalah, Bandung, 1989); buku Resolusi Jihad (Milal Bizawi; 2014). Selain itu ada juga manuskrip karya ulama dari Bawean, yang membahas Pancasila dan agama yang bisa dijadikan sebagai bahan untuk menyusun tafsir agama terhadap Pancasila.

Mengingat kuatnya gerakan pengagamaan tafsir agama kaum fundamentalis-puritan yang bisa merongrong Pancasila, maka dalam memperingati hari lahir Pancasila ke 75 ini perlu kiranya dirumuskan tafsir agama terhadap Pancasila, baik dari aspek historis maupun ideologis. Ini merupakan langkah urgent yang perlu dilakukan untuk menghadang gerakan kaum fundamentalis-puritan yang semakin intens melakukan provokasi menentang Pancasila. Karena hanya dengan tafsir agama terhadap Pancasila yang bisa mengimbangi tafsir agama yang anti Pancasila yang sudah dibangun oleh kaum fundamentalis-puritan.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close