Urgensi Multiliterasi di Tengah Pandemi, Mampukah Perpusnas Perkuat Eksistensi?

Urgensi Multiliterasi di Tengah Pandemi, Mampukah Perpusnas Perkuat Eksistensi?
Nikmahtin Megawati

Oleh : Nikmahtin Megawati

PERAN memajukan negeri perlu ditunjukkan meski di tengah gemuruh pandemi covid-19 yang kian menjadi. Riuhnya dampak pandemi pada kesehatan maupun lintas sektoral menimbulkan kesadaran bahwa rendahnya kompetensi literasi dan berkembangnya konsumsi informasi hoaks merupakan suatu urgensi yang harus teratasi.

Berdasarkan pemaparan Kominfo dalam rapat kerja bersama DPR RI pada 5 Mei 2020 ditemukan sejumlah 1.401 konten hoaks dimana per hari mencapai sekitar 759 kasus dan masih dapat berkembang lagi.

Disinformasi semacam ini jelas bukan pertama kali meresahkan masyarakat, itu baru satu subjek informasi dan yang dilaporkan bagaimana dengan lainnya? Secara publik tidak semua dapat dengan mudah mempunyai jangkauan akses internet untuk dapat verifikasi lebih lanjut dan lebih sering langsung disebarkan.

Realitasnya ketersediaan informasi juga makin bebas membanjiri, apalagi perkembangan dunia digital dan New Normal yang menjadi proses adaptasi tak terhindarkan. Siapapun kini bisa menjadi pengirim, distributor hingga penerima beragam informasi. Apalagi dengan penggunaan media sosial yang kian masif sehingga wajar jika lahan subur informasi hoaks kian melebur.

Ketersediaan informasi beragam mulai dari Perpustakaan Nasionalyang informasinya variatif, sumber kredibel, dan terdapat kemas ulang konten informasi lokal, kini, hingga mendatang sesuai kebutuhan informasi publik. Bebasnya arus informasi juga tersedia pada mesin pencarian populer seperti google, media massa, dan media baru.

Apabila google identik dengan kemudahan akses dan hasil melimpah, maka media massa lekat dengan ragam informasi dan konsistensi waktunya. Adapula media baru yang  berciri khas informasi interaktif khususnya jenis media sosial yang menjadi primadona pada era internet of things saat ini.

Implikasi lainnya overload informasi semakin dirasakan masyarakat. Apapun subjek informasi yang didapat perlu bertemu dengan penggunanya secara tepat barulah kejelasan tujuan / keberlanjutan peran akan terwujud.

Jika paradigma darurat literasi sebagai akibat non validitas informasi yang dikonsumsi masyarakat masih merebak maka perspektif ini harus direvisi. Krisis akibat pandemi covid-19 ternyata menumbuhkan solidaritas berinovasi dan berkontribusi. Salah satu perwujudannya adalah tumbuhnya kesiagaan verifikasi konten informasi, berkembangnya multiliterasi, dan terbangunnya kolaborasi oleh semua pihak baik lembaga layanan publik pusat hingga daerah maupun bermasyarakat.

Kontekstual tersebut terimplementasi melalui layanan situs verifikasi konten negatif sekaligus inovasi ragam aktivitas produktif bagi masyarakat. Situs ini disediakan  beberapa organisasi informasi guna melawan konten negatif atau informasi hoaks, antara lain https://aduankonten.id/ milik Kominfo, https://covid19.go.id/p/hoax-buster oleh Satgas Penanganan Covid-19, http://infocovid19.jatimprov.go.id/ oleh Pemprov Jawa Timur, https://cekfakta.tempo.co/ oleh Tempo, dan lainnya. 

Adapun perkembangan multiliterasi ditandai dengan bermunculannya ragam jenis literasi sesuai kebutuhan masyarakat. Literasi sendiri diartikan sebagai kemampuan untuk mengelola informasi mulai dari memahami, mengolah, dan menganalisis informasi untuk dapat mengatasi masalah hidup, peningkatan kualitas, dan memperbaiki kesejahteraan.

Fleksibilitas peran bermunculan demi meningkatkan produktivitas masyarakat. Salah satunya seperti terlaksananya kegiatan Webinar “Bangkit dari Pandemi dengan Literasi” pada 16 juni 2020 yang merupakan kolaborasi kegiatan antara Perpusnas dengan Bappenas melalui via zoom dan disiarkan live streaming melalui Youtube dengan dihadiri 1000 peserta.

Tema materi terdiri dari “Kenormalan baru Perpustakaan dan pemulihan sosial ekonomi”, “Literasi untuk meningkatkan kualitas SDM dan kesejahteraan”, “Literasi digital dalam kenormalan baru”, dan “Penguatan Literasi Daerah untuk penanggulangan dampak covid-19”. Analisis melalui perkembangan pemanfaatan webinar saja sudah banyak aktivitas pengembangan ragam literasi / multiliterasi bagi publik.

Realisasi capaian tersebut menunjukkan bahwa dampak pandemi tidak menyurutkan Perpustakaan Nasional untuk kerahkan inovasi berkesinambungan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu pelopor kesadaran bagi publik bahwa saat pandemi covid-19 nyatanya literasi beragam tidak hanya literasi kesehatan semata.

Wajar apabila fenomena multiliterasi sebagai solusi hadapi pandemi harus bergegas disadari dan terfasilitasi. Paradigma darurat literasi akibat berkembangnya non validitas informasi oleh public sebagai dampak pandemi wajar jika kian terganti jadi tumbuhnya multiliterasi.

Komitmen dan kontribusi peran Perpusnas untuk tetap adaptif, inovatif dan kolaboratif terwujud dalam layanan unggulannya yaitu IOS (Indonesia onesearch), e- khastara, dan iPusnas demi meningkatkan literasi maupun akses informasi masyarakat di tengah pandemi. IOS dan E-khastara sama-sama merupakan situs pencarian tunggal berisi aneka sumber informasi dari seluruh Indonesia namun e-khastara lebih spesifik ke khasanah pustaka. 

Barulah iPusnas merupakan aplikasi perpustakaan digital yang menyediakan aneka koleksi digital siap akses bagi publik. Representasi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital dan internet of things dapat terfasilitasi optimal oleh Perpusnas sesuai dengan prinsip collaborative governance yang diarahkan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) demi perwujudan birokrasi efektif.

Berdasarkan pemaparan pidato Presiden Joko Widodo pada sidang tahunan MPR-DPR-DPD pada 14 Agustus 2020 menghasilkan garis besar poin penting berupa “Ekosistem nasional yang produktif dan inovatif tercipta melalui kolaborasi, fleksibilitas tinggi, dan responsivitas menciptakan krisis pandemi sebagai suatu lompatan kemajuan baru pada semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Sisi lainnya kekuatan informasi konten viral ataupun trending topic kian mempesona publik. Keunggulan sirkulasi informasi yang interaktif, bebas kontrol, luas jangkauan, dan real time menjadi realitas menjanjikan dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat. Kecanggihan berselancar informasi digital tersebut juga tak lepas dari ketidakutuhan dan manipulatif sajian informasi. 

Meskipun multiliterasi kian berkembang namun overload informasi masih tak terhindarkan, oleh karena itu poin utama yang penting disadari adalah efektivitas informasi tercipta melalui perilaku penelusuran tepat dan pengorganisasian informasi yang terfasilitasi.
Hegemoni peran Perpustakaan Nasional kian dituntut capaian eksplisit. Peran layanan IOS (Indonesia onesearch), e-khastara, dan iPusnas ternyata masih penyedia informasi saja.

Telah tersedianya layanan Ask a librarian maupun responsivitas pustakawan melalui media sosial dalam user education tidak cukup. Atmosfer menciptakan user untuk senantiasa butuh dan memfasilitasi peningkatan multiliterasi bagi keberlanjutan kebutuhan informasi publik belum teroptimalisasi oleh Perpusnas. Wajar jika konten informasi media sosial dominan diminati.

Berdasarkan versi CNN viral diartikan sebagai suatu informasi yang membawa efek luas dan jangka waktu lebih lama, sedangkan trending topic menggambarkan kecepatan seberapa banyak tagar tentang suatu subjek informasi diminati dalam hitungan periode tertentu di media sosial.

Subjek informasi yang diminati publik bisa terbentuk apabila penyedia sumber informasi mampu mengambil peluang tersebut. Relevansi analisis inilah menjadikan munculnya saran inovasi berupa Discovery Pengorganisasian Informasi guna keberlanjutan peran Perpusnas. 

Analisis ini terinspirasi dari model Big Six Skill Model oleh Berkowitz dengan tahapan yaitu definisi tugas, strategi pencarian informasi, lokasi serta akses, penggunaan informasi, sintesis, dan evaluasi dimana keseluruhan poin tersebut sebagai pengarah perilaku penelusuran informasi users.

Adapun analisis pengorganisasian informasi berasal dari realitas bahwa masifnya internet of things dan keberlakuan New Normal telah membuka jalan urgensi multiliterasi sehingga peluang ini harus segera terfasilitasi optimal.

Beberapa tahapan kegiatan sebagai wujud Discovery Pengorganisasian Informasi yang dapat diimplementasikan pada ketiga layanan unggulan Perpusnas yaitu meliputi : 1) Penggunaan Indeks waktu, 2) Penyediaan #subjek informasi yang tengah diminati, 3) Sambungkan dengan pilihan jenis literasi yang dibutuhkan, 4) Sambungkan pada jenis / media informasi yang dibutuhkan, 5) penyediaan akses review komentar, diskusi, dan share via media sosial.

Penggunaan indeks waktu terinspirasi dari media massa digital yang apabila kita ketinggalan informasi dapat diakses kembali. 

Adapun #subjek informasi dapat dibentuk oleh Perpusnas dengan menggugah partisipasi / apresiasi publik dengan Q & A (Question and Answer) via media sosial Perpusnas setiap ada fenomena publik yang tengah jadi sorotan. Terkait dengan penyambungan jenis literasi dan media yang dipilih tentu yang ambil peran adalah para pustakawan, dimana nantinya merekalah yang menentukan jenis literasi, ketersediaan media informasi sampai kemas ulang / efektivitas pengorganisasian informasi bagi users.

Tahapan terakhir yaitu penyediaan akses review komentar, diskusi, dan share via media sosial penting tersedia untuk memfasilitasi perkembangan analisis kebutuhan subjek informasi, membuka partisipasi sinergis publik terkait suatu hal yang tengah jadi sorotan melalui konsumsi informasi relevan, sehingga nantinya terwujud share via media sosial yang bijak dan menumbuhkan budaya multiliterasi yang kian produktif bagi publik. 

Jadi melalui inovasi penguatan eksistensi inilah Perpusnas dengan mantap menjawab bahwa mampu hadapi urgensi mulitiliterasi di tengah pandemi. Realitas membangun negeri tanggung jawab bersama dan Perpustakaan Nasional yakinkan melalui kontribusi dan inovasi untuk kian adaptif nan solutif dari masa ke masa. (*)

Penulis adalah Pustakawan Terampil Perpustakaan Nasional