MusikSeni

UNESCO Tetapkan Ambon sebagai Kota Musik

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Ambon sebagai kota musik dalam daftar 66 kota kreatif di dunia.

Pengumuman ini disiarkan melalui laman resmi, Rabu, 30 Oktober 2019 oleh Director-General of UNESCO, Audrey Azoulay. Pemilihan keenam kota ini berdasarkan kontribusi nyata untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pemikiran dan tindakan inovatif di tingkat perkotaan.

Sejak tiga tahun lalu, Kota Ambon telah dipersiapkan sebagai kota musik dunia oleh pemerintah pusat pada 29 Oktober 2016. Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), Pemprov Maluku, dan Pemkot Ambon membuat pernyataan bersama di muka publik Ambon, Lapangan Merdeka, berkomitmen menjadikan Ambon sebagai kota musik dunia melalui UNESCO.

Glenn Fredly, bagian dari Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) merancang Konferensi Musik Indonesia perdana tahun lalu di Ambon. Konferensi tiga hari itu berbuah 12 poin pemikiran tentang masalah industri musik yang telah diserahkan kepada Presiden Joko Widodo dan Ketua DPR Bambang Soesatyo.

Ambisi Ambon menjadi kota musik juga sudah didengungkan sejak tahun lalu. Saat itu, Anthony Gustav, Sektretaris Kota Ambon menilai Ambon memiliki semua aspek dalam budaya musik. Contohnya, musisi asal Ambon yang berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Suling bambu akan menjadi ciri khas Kota Ambon.

Upaya menjadikan Ambon sebagai kota musik dunia juga dilakukan oleh Glenn Fredly bersama Ridho Hafiedz (Slank). Mereka mengawal proses ini sejak tiga tahun belakangan serta menggalang dukungan melalui petisi online Change.org. Petisi itu ditujukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan judul “Dukung Ambon Menjadi Kota Musik Dunia oleh UNESCO” pada 14 Mei 2019.

Saat itu, Glenn dan Ridho melalui Ambon Music Office menyerahkan formulir aplikasi kota musik kepada UNESCO dan mengklaim telah mendapat dukungan dari negara Australia dan Korea Selatan, negara jaringan kota musik dunia.

Glenn dan Ridho ikut menjadi saksi bagaimana musik mampu menciptakan perdamaian di Ambon pada 2005 saat melewati konflik panjang. Perlu diingat, Maluku masih mempunyai persoalan sosial yang harus dibenahi seperti pendidikan, kesejahteraan hiduo, dan lingkungan hidup. Data BPS Februari 2019 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Maluku menempati posisi ketiga secara nasional.

Selain Kota Ambon, kota yang terpilih sebagai kota musik yaitu Essaouira (Maroko), Havana (Kuba), Kazan (Federasi Rusia), Kirsehir (Turki), Leiria (Portugal), Lliria (Spanyol), Metz (Prancis), Port of Spain (Trinidad dan Tobago), Ramallah (Palestina), Sanandaj (Iran – Republik Islam Iran), Santo Domingo (Republik Dominika), Valledupar (Kolumbia), Valparaiso (Chili), Veszprem (Hungaria), dan Vranje (Serbia).

Sejak diumumkan 66 kota kreatif baru, total UNESCO Creative Citis Network mencapai 246 kota. Mereka berasal dari benua dan daerah dengan tingkat pendapatan dan populasi berbeda.

Misi mereka yaitu menempatkan kreativitas dan ekonomi kreatif sebagai inti ari rencana pembangunan perkotaan mereka agar kota-kota lebih aman, tekun, inklusif, dan berkelanjutan, sejalan dengan Agenda PBB 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. (AR)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close