Nasional

Undang Dirut Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos, Diaz Hendropriyono Tegaskan Perlunya Diferensiasi Program Rehabilitasi Anak Eks ISIS

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Wacana pemulangan anak-anak WNI eks ISIS di bawah usia 10 tahun oleh Menkopolhukam Mahfud MD turut menarik perhatian Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono.

Ia langsung mengundang Kanya Eka Santi, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos ke kantornya, Kamis (5/3). Pertemuan itu diceritakan Diaz melalui media sosial instagramnya.

“Hari ini saya bertemu Ibu Kanya Eka Santi, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kemensos. Kami berdiskusi mengenai persiapan Kemensos dalam menampung anak-anak yang akan kembali ke Indonesia dari Syria, yang ortunya tergabung dengan ISIS,” tulis putra penasihat PKPI AM Hendropriyono ini dalam keterangan foto instagramnya.

Tujuan Diaz mengundang Kanya guna mendengarkan paparan mengenai penanganan pengembalian anak-anak yang terpapar radikalisme.

Dalam presentasinya, Kanya menjelaskan tanda-tanda seorang anak telah terpapar radikalisme serta proses rehabilitasinya.

“Karakter orang terpapar radikalisme biasanya ialah menolak mengucapkan salam, menolak makan ayam atau daging, menolak sholat di masjid yang tidak dibangun komunitas mereka, menolak segala bentuk aktivitas seni, membenci aparat negara, dan yang paling krusial ialah menolak Pancasila sebagai ideologi negara,” jelas Kanya.

Ia pun menjelaskan lagi bahwa proses rehabilitasi menggunakan pendekatan terapi dari mulai fisik, penghidupan, psikososial, hingga mental-spiritual.

Menanggapi paparan Kanya, Diaz pun kembali menegaskan kepada pihak Kemensos agar dalam proses rehabilitasi nanti, anak-anak WNI eks-ISIS harus dipisahkan ke dalam dua kategori yang berbeda.

“Saya memberi masukan ke beliau bahwa anak-anakpun harus diberi kategori yang jelas, apakah anak tersebut sebagai DEPENDANT atau FIGHTER,” tuturnya.

Diaz menilai hal ini penting karena mengingat adanya seorang anak 11 tahun bernama Haft Saiful Rasul yang meminta izin kepada ayahnya untuk berjuang ke Syria. Haft Saiful pergi bersama 12 orang lainnya yang berasal dari sebuah pesantren di Bogor. Sayangnya, tahun 2017, bocah ini tewas di Syria akibat serangan bom.

“Kemensos, BNPT dan Densus perlu mengidentifikasi apakah anak-anak yang nantinya akan dibawa ke Indonesia termasuk DEPENDANT, di mana mereka sekedar ikut orang tuanya ke Syria atau FIGHTER, pejuang yang kebetulan secara umur masih bocah, seperti Haft Saiful Rasul. Program rehabilitasi/deradikalisasi yang diberikan kepada anak-anak ini pun otomatis harus berbeda. Tolak Fighter, seleksi ketat untuk dependant,” tegas Diaz.

Ketua umum PKPI ini berharap ketiga lembaga pemerintahan tersebut bisa merumuskan bagaimana prosedur rehabilitasi yang tepat sesuai dengan dua kategori yang ia tawarkan.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close