Catatan dari Senayan

Umbul-umbul Kemerdekaan

Hampir semua jalanan di Jakarta sampai pelosok-pelosok desa di Tanah Air kita sejak awal Agustus semarak dengan jajaran umbul-umbul, kibaran bendera merah putih, dan baliho untuk menyambut  71 tahun kemerdekaan Republiki Indonesia.
Jeff, seorang warga negara Amerika Serikat yang  sudah lama tinggal di Jakarta sepekan yang lalu menunjukkan gambar ponselnya kepada SenayanPost.
“Saya mengapresiasi kekompakan rakyat Indonesia, memasang umbul-umbul, bendera kebangsaan dan lainnya untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan,”  kira-kira begitu inti yang disampaikannya.
“Terima kasih, memang setiap bulan Agustus pemandangan seperti itu ada dimana-mana, di seluruh Indonesia. Kami mensyukuri menjadi bangsa yang merdeka,” jawab saya.
“Ya tapi coba cermati gambar ini. Umbul-umbulnya tidak pas. Atas merah, bawahnya putih, bawahnya lagi biru. Ini kan seperti bendera Belanda,”  kata Jeff sambil menujukkan detil gambar umbul-umbul di ponselnya.
Jeff benar. Euforia kemerdekaan, semangat nasionalisme haruslah proporsional dan dipahami sepenuhnya. Dipastikan pembuat umbul-umbul dan pembelinya tak memaksudkan memilih warna “merah-putih biru”  itu untuk menonjolkan bendera Belanda.  Mereka pun tidak mungkin berobsesi untuk dijajah kembali oleh negeri Kincir Angin itu. Dijajah tiga setengah abad  sudah lebih dari cukup membuat bangsa ini menderita. Sudah terlalu banyak kekayaan negeri ini disedot Belanda untuk membangun negerinya. Sudah ratusan ribu nyawa dikorbankan para pendahulu kita, dan sudah terlalu banyak nilai-nilai buruk dari penjajah yang meracuni anak-anak bangsa kita hari ini.
Umbul-umbul yang “keliru” itu sesungguhnya bisa juga kita lihat sebagai ketidakpahaman dan kesalahkaprahan sebagian bangsa kita yang sudah 71 tahun  berada di alam kemerdekaan ini. Ketika mereka berada di Belanda, entah karena belajar atau bekerja di sana, terus memuja nilai-nilai di sana. Ketika berada di Amerika lantas berpikiran Amerika, melebihi pikiran orang Amerika sendiri. Atau sepulang dari Arab Saudi terus meng-copy paste gaya hidup dan cara berpakaian bangsa Arab.
Kita tetap Indonesia. Dalam cara berpikir dan bergaya hidup, tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Indonesia. Kita tidak menolak modernisasi dalam berkehidupan. Nyatanya kita sudah lama memanfaatkan teknologi asing. Moda transportasi yang kita gunakan, alat komunikasi yang kita pakai, berbagai ilmu yang kita serap dan dayagunakan, memang produk-produk negara maju. Namun kita tetap dapat memilih nilai-nilai mana yang sesuai dengan kondisi bangsa kita. Sintesa berbagai nilai di zaman global memang tak bisa dielakkan, tapi kita tetap dapat memilih sistesa nilai yang selaras dengan tata nilai Indonesia.
Kebiasan mendewakan Barat dan merendahkan nilai sendiri bukanlah sikap yang tepat bagi bangsa yang merdeka. Kita harus menjadi bangsa yang mandiri, merdeka dalam segalanya. “Kesalahan” pilihan warna umbul-umbul barangkali merupakan sindiran halus kepada kita, untuk mengajak kembali menjadi bangsa yang merdeka.
Sekali merdeka tetap merdeka !!!
Salam

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close