Kolom Emha

Ultra Lebaran Mega Idul Fitri Giga Takbir

KETIKA malam naik dan suara takbir melangkahkan kaki gaibnya dari pulau ke pulau, dari negeri ke negeri di seluruh permukaan bumi—bagaikan echo lagu semesta—Kyai Sudrun muncul di tempat persemayaman terakhirnya ketika hidup. Yakni di sebuah kampung di kota Bangil Jawa Timur.

Saya sedang khusyuk menikmati pawai takbir dan oncor yang suara dan cahayanya menabur dari jendela rumah. Musik ubudiyah cinta Bimbo dengan puluhan wanita penyanyi yang cantik manis shalihah, sampai di puncak ‘isyik-nya. Tuhan dipestakan besar-besaran di Jakarta dan Surabaya. Takbir bergema bagaikan menantang sejarah. Beribu gendang dan terbang, beribu gerak dan keindahan… tapi Sudrun meraih tengkuk saya dan mencampakkan badan saya ke sisinya.

Tidak kaget saya oleh sikap kekanak-kanakannya. Menangis menjadi-jadi dengan tangis anak-anak yang mainan plembungan-nya meletus. Menjatuhkan diri di tanah. Kakinya selonjor, tumitnya menendang-nendang tanah. Saya tahu ia menunggu pertanyaan saya: “Kenapa Kyai, kenapa menangis malam-malam begini?”. Tapi saya tidak bertanya. Saya jongkok saja dan memandang ke arah menentu.

Sehingga kemudian ia jawab pertanyaan yang dibayangkannya sendiri: “Karena Kekasihku tak mungkin menangis, maka akulah yang menangis”.

Hampir saja saya tergoda untuk bertanya dan membantah. Kenapa harus menangis. Apakah Tuhan merasa terharu mendengarkan hamba-hambanya di seantero bumi memuji-muji, mengagung-agungkan nama-Nya?

Tapi rupanya Sudrun mendengar suara hati saya dan menanggapi: “Goblok! Aku baru datang berkeliling. Jakarta. Surabaya. Studio televisi. Panggung-panggung. Karena aku menyangka Kekasihku adalah Maha Lakon Utama di tempat-tempat itu. Semula aku memang menemukan-Nya di sana, tapi tiba-tiba kehilangan, entah ke mana pergi-Nya. Kucari-cari sampai hampir pingsan dan putus asa. Ternyata Ia bersembunyi di belakang punggung setiap orang. Aku bertanya—“Kenapa Kekasihku bersembunyi di sini?”. Ia tersenyum dan berkata —“Kekasihmu tidak bersembunyi. Hamba-hamba-Ku yang amat kucintai itu tidak sadar telah menyembunyikan-Ku di balik punggung mereka masing-masing. Kekasihmu menjadi Pihak Ketiga. Menjadi Dia.

Bukan Engkau di hadapan aku manusia. Kekasihmu menyangka mereka sedang memuji-muji kebesaran-Ku, tapi akhirnya Kekasihmu merasakan bahwa mereka sangat sibuk dengan keindahan suara mereka sendiri, mereka sangat asyik dengan kesenian Lebaran mereka sendiri, sehingga Kekasihmu tersisihkan tanpa sengaja. Tetapi Kekasihmu memaafkan mereka, karena mereka tidak sungguh-sungguh mengerti apa yang mereka lakukan”.

“Subjektif!”, saya memekik. Tidak tahan lagi. “Itu persepsi subjektif!”

“Pasti. Pasti subjektif. Itu ta’riful ghaib”, jawabnya, sambil menunda tangisnya. “Bisakah ilmu objektif melihat, menembus dan menilai dimensi keikhlasan dan ketidak-ikhlasan, dimensi cinta dan kesungguhan di dalam jiwa manusia? Bisakah ilmu objektif memastikan apakah shalat seseorang benar-benar shalat? Bisakah ilmu objektif menemukan klaim bahwa seseorang atau sekumpulan orang menyelenggarakan Takbir Akbar tidak untuk soal-soal yang selain Allahu Akbar, melainkan umpamanya untuk rangkaian rekruitmen politik, lobi bisnis atau pengagungan eksistensi diri sendiri? Sedangkan takbir dan tauhid adalah peleburan dan peniadaan diri sehingga lenyap ke dalam Diri?”

“Allah itu Syakur, Kyai!”, saya menyela, “Allah itu Maha Pensyukur. Tidakkah agama Allah terbukti memperoleh perhatian sangat besar-besaran dari hamba-hamba-Nya?”

“Apa buktinya bahwa mereka sungguh-sungguh ber-Allahu Akbar? Mana indikator budayanya, mana tanda ekonomi dan politiknya, mana perwujudan hukumnya? Tidakkah saudara-saudaramu itu menyangka bahwa Kekasihku itu sedemikian remehnya sehingga cukup dirayu dengan ucapan, lagu, gendang dan lampu gemerlap?

“Kenapa Kyai tidak memilih untuk mensyukuri itu, sebagaimana Tuhan mensyukuri dan memuliakan seseorang meskipun sekadar karena ia memelihara nyawa seekor burung pipit?”

Sudrun mulai tersenyum, meskipun pipinya masih basah oleh lelehan air mata.

“Kalau aku nonton teve, menyaksikan anak-anakku bernyanyi dengan kerudung dan baju kurung, aku memang selalu bersyukur dengan penuh kepahitan. Mereka menghormati bulan Ramadlan dengan cara yang sukar kupahami. Mereka memuliakan Allah dengan mengenakan pakaian yang sehari-hari hampir tak pernah mereka kenakan. Mereka melantunkan syair-syair yang tidak menjadi pedoman kehidupan mereka. Mereka memperagakan kekhusyukan dan itu tidak pasti berarti khusyuk. Mereka memperagakan kebaikan dan tak bisa dijamin benar-benar baik. Mereka menyongsong Idul Fitri dengan berpakaian ketidakaslian, sehingga yang berlaku jangan-jangan adalah justru Tarkul Fitri (tark al-fithr): menunggalkan keaslian. Menutupi diri dari kewajaran. Hal itu membuat Musa merasuk ke dalam badanku dan tongkatnya mendadak tergenggam di tanganku, karena ia bepikir bahwa itu semua sejenis sihir. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk bersyukur: “Masih untunglah mereka tampil seperti itu. Tapi hatiku terasa pahit, karena mungkin aku sedang mensyukuri kemunafikan”.

“Kyai!”, kata saya kemudian, “Kehidupan adalah proses…”

“Sejak sebelum lahir aku sudah tahu itu!”, ia membentak.

“Maksud saya begini Kyai. Syukurlah seseorang melakukan shalat, pertama-tama karena demi merayu calon mertua. Semoga Allah memberinya hidayah sehingga selanjutnya ia shalat benar-benar karena keikhlasan ibadah kepada-Nya”.

“Tetapi wajib hukumnya bagiku untuk menangis!”, mendadak ia menendang-nendang tanah lagi dan menangis meraung-raung.

“Betapa tak tahu dirinya aku di hadapan Kekasihku kalau aku tak menangis!”, lanjutnya, “hamba-hamba Kekasihku semakin tidak memiliki keyakinan religius. Impian mereka tidak terkontrol karena akal sehat mereka menurun. Mencapai tahap kualitas Idul Fitri yang wajar dan pada standar minimal secara objektif tak bisa-bisa, sehingga mereka mencoba mengatasinya dengan cara subjektif. Yakni dengan mengarang sebutan baru, misalnya Mega Idul Fitri, Ultra Lebaran, Giga Allahu Akbar, atau entah apa lagi. Itu eufemisme subjektif: boleh tak bisa makan ayam, asalkan ada bumbu rasa kari ayam…”

Saya memotong—”Tidakkah Kyai merasa bahwa ucapan Kyai itu kasar dan menusuk perasaan?”

“Kalau hamba-hamba Kekasihku itu memang benar-benar lemah dan tak berdaya, aku masih punya alasan untuk mensyukuri batas pencapaian mereka. Tapi kalau sebenarnya mereka kuat dan sesungguhnya memiliki kesanggupan untuk berubah, maka Ibrahim yang harus datang kemari membawa kapaknya. Apakah kapak Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala itu kau sebut kasar dan menusuk perasaan Bapaknya?”

“Kapan Ibrahim datang Kyai?”

Sudrun meraung-raung semakin keras. “Itulah yang kutangisi. Aku takut Kekasihku tidak menegur mereka, karena memang hanya hamba-hamba yang dikasihi-Nya saja yang cepat ditegur, diingatkan dan dihukum. Sedangkan mereka yang sudah jauh dari kasih-Nya, dibiarkan saja….”

*Diambil dari buku “Tuhan Pun ‘Berpuasa’”, diterbitkan oleh penerbit Zaituna, 1997.

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Close