Ultra Kanan dan Kapitalisasi Isu Covid-19

Ultra Kanan dan Kapitalisasi Isu Covid-19
As’ad Said Ali

Oleh: As’ad Said Ali

BEBERAPA  kali saya  kedatangan tamu yang belum saya kenal (antara lain dokter) dibawa oleh oleh para sahabat yang biasa silaturahmi. Tamu-tamu yang belum saya kenal tersebut menerangkan soal Covid-19 dari perspektive yang bertolak belakang dengan pendapat umum. 

Intinya bahwa Covid-19 itu konspirasi elit dunia (khususnya  kaum eluminasi) untuk membunuh/mengurangi jumlah umat manusia.  Oleh karena itu para tamu tersebut menganjurkan saya agar jangan memakai masker, menolak vaksin, tidak mematuhi prokes dan sejenisnya.

Tentu saja saya menolak pandangan tersebut karena bertentangan dengan penalaran saya. Pandangan  para tamu tidak diundang tersebut paralel atau mirip dengan sikap mantan Presiden Trump yang menolak masker dan selalu berbeda pendapat dengan Direktur Pusat Riset Penyakit Penular Amerika Serikat Dr Anthony Fauci yang menganjurkan masyarakat untuk jaga jarak dan memakai masker.

Sebaliknya mantan Presiden Trump menolak masker dan baru mau memakai setelah berkunjung ke pangkalan militer AS yang mensyaratkan pemakaian masker.

Sikap dan kebijakan kontroversial Trump tersebut berdampak luas, rakyatnya mengabaikan prokes dengan akibat yang luar biasa “lebih sekitar 29 juta warga AS positip Corona dan  400 ribu lebih meninggal”.  

Beberapa negara lain yang mengalami bencana Corona yang relatip besar adalah; Brazilia (10,5 jt positip  meninggal (M) 250, 4 ribu), Italia (2,9 juta positip, 297 ribu M, Perancis (lebih dari 3,7 juta positip, 86: 3 ribu M), Jerman (positip 2,4 juta dan 70 ribu M ).

Kalau dicermati di negara-negara tersebut, kampanye negatip tentang Corona relative massive karena di negara negara tersebut aktivis Ultra Kanan cukup kuat. Sebagai contoh pendukung Ultra Kanan di Brazilia mempunyai hubungan politik yang erat dengan Presiden Bolsonaro dan di AS, Ultra Kanan mampu mempengaruhi policy Presiden Trump tentang penanganan Covid 19, rasialisme, Climate Change dan Islam poby.

Ultra Kanan sering juga disebut Ultra Nasionalis/Nasionalis sempit, Ultra Liberal, Fasis. Dalam konteks yang lebih sempit istilah Ultra Kanan biasanya digunakan untuk menyebut golongan reaksioner atau konservatip dalam suatu partai atau sistem politik-ideologi politik. 

Gerakan itu lahir  pada akhir abad 19 dan menjadi faktor pemicu meletusnya PD II (Hitler dan Musolini). Ultra Kanan marak kembali mengambil momentum insiden peledakan WTC 11 september 2001 yang antara lain melahirkan gerakan Ismamophoby di berbagai negara.

Tampaknya Ultra Kanan memanfatkann momentum  Covid-19 untuk merebut opini dunia dengan melakukan kapitalisasi di seluruh dunia dengan tujuan mengendalikan globalisasi demi keuntungan mereka. Barangkali banyak dari elemen bangsa kita yang tidak menyadarinya sehingga terpengaruh  ikut berkampanye anti kebijakan pencegahan terhadap Corona. 

Kalau tidak diwaspai, kecendrungan Ultra Kanan bukan hanya mempengaruhi langkah pencegahan Covid-19, tetapi juga  dapat mengancam toleransi beragama, multirasialisme dan persatuan seperti yang terjadi akhir ini dengan maraknya adu domba antar agama dan suku. (*)

DR KH As’ad Said Ali, mantan Wakil Kepala BIN dan mantan Wakil Ketua Umum PBNU.