Internasional

Ultah ke-104, Profesor Australia Ini Minta Kado Kematian

PERTH, SENAYANPOST.com – Banyak orang yang berdoa agar dipanjangkan umurnya, tapi ada juga yang tidak suka diberi umur panjang. Itulah yang dialami akademisi dari Perth, Australia Barat, Profesor Dr David Goodall yang hari ini merayakan hari kelahirannya ke-104 tahun. Kado yang dia inginkan bukan panjang umur, tapi menginginkan kematian sebagai hadiah.

“Saya sangat menyesali telah mencapai usia ini. Saya lebih suka 20 atau 30 tahun lebih muda,” ucapnya seperti dilansir dari Australia Plus.

Ditemani keluarganya dan teman-teman di rumah putrinya, Goodall menyampaikan sesuatu yang lebih penting dibandingkan usianya.

Dia menjadi anggota kelompok advokasi, Exit International, selama 20 tahun dan berencana menghabiskan sisa hidupnya berkampanye untuk pengesahan eutanasia sukarela di Australia Barat.

“Orang tua seperti saya harus memiliki hak kewarganegaraan penuh termasuk hak melakukan bunuh diri dengan mendapat bantuan,” ujarnya.

Akhir tahun lalu, Victoria menjadi negara bagian pertama di Australia yang melegalkan kematian secara sukarela dengan dibantu orang lain.

Tapi di bawah UU itu, Goodall tidak akan memenuhi syarat, karena dia tidak menderita penyakit mematikan dan meskipun lemah serta hampir buta, kesehatannya sebenarnya cukup baik.

Goodall menjadi perhatian internasional pada 2016 ketika saat itu mencapai usia 102 tahun. Universitas tempatnya bekerja meminta dia segera mengosongkan kantornya karena dianggap menjadi risiko keamanan bagi dirinya sendiri.

Dia menentang keputusan tersebut. Setelah mendapat reaksi publik, pihak universitas membatalkannya. Dalam beberapa tahun terakhir kondisi fisik akademisi ini terus memburuk, demikian pula kualitas hidupnya.

Dia bermain tenis sampai usia 90 tahun. Goodall juga bermain dalam grup teater amatiran di Perth. Namun, kegiatan itu juga terpaksa dihentikan ketika penglihatannya memburuk sehingga tak bisa lagi mengemudi sendiri ke tempat latihan pada malam hari.
Penglihatannya yang memburuk juga menghentikannya melakukan berbagai tugas pekerjaan akademisnya, seperti membaca surat eletronik atau e-mail. Sementara, sebagian besar koleganya juga sudah lama meninggal dunia.

Goodall masih menggunakan transportasi umum untuk pulang-pergi ke kantornya hingga beberapa bulan yang lalu, sampai akhirnya dia terjatuh di apartemennya.

“Saya terjatuh ke sudut apartemen dan tidak ada yang bisa saya pegangi. Saya berteriak tapi tidak ada yang bisa mendengar,” katanya.

Dia terkapar di lantai selama dua hari sampai ditemukan oleh petugas kebersihan dan dibawa ke rumah sakit. Dokter mengobatinya dan melarangnya naik transportasi umum atau bahkan menyeberang jalan sendirian. (WW)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close