Opini

Ulama Tidak Jual Nasihat

One Day One Hikmah (4)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“SIAPAKAH kiranya yang dapat memberikan nasihat kepadaku?”

Demikian gumam pelan Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyah (714-755 M). Kala itu, malam telah sangat larut. Namun, meski malam telah sangat larut, kedua matanya belum lagi hendak terpejam. Karena itu, ia pun berdiri di samping jendela besar Istana Kubah Hijau (Qubbah Al-Khadhrâ’): memandangi Kota Baghdad Madinah Al-Salam, sebuah kota megah dan indah yang ia dirikan.

Meski kala itu Abu Ja ‘far Al-Manshur seorang penguasa kondang danberjaya, namun ia merasa, nasihat senantiasa tetap ia harapkan. Nasihat dari seseorang memiliki kalbu dan pikiran yang jernih, bening, dan cemerlang.Segera, sebuah nama mencuat dalam benak penguasa yang hidup sederhana itu: Abu ‘Amr bin ‘Ubaid, seorang ulama kondang dari Beirut, Lebanon. Ingat nama ulama kondang itu, Abu Ja‘far Al-Manshur segera memerintahkan seorang pejabat.Untuk mengundang ulama kondang itu ke Baghdad Madinah Al-Salam, “Kirim segera utusan kepada Abu ‘Amr! Sampaikan kepadanya, aku mengundangnya. Ke Baghdad Madinah Al-Salam!”

Segera, seorang utusan pun dikirim untuk menjemput Abu ‘Amr. Kala itu, ulama kondang itu sedang berada di tempat tinggalnya, sebuah desa di tepi pantai Beirut, Lebanon (kala itu masih termasuk wilayah Syam). Abu ‘Amr yang dimaksud sang penguasa itu tidak lain adalah Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Yuhmid Al-Auza‘i yang lebih terkenal dengan panggilan Al-Auza‘i. Ulama yang nenek moyangnya berasal dari Auza‘ah, sebuah pedusunan di Yaman (menurut sebuah sumber lain sebuah desa di Damaskus, Suriah) ini lahir dalam keadaan yatim di Baalbek, Lebanon pada 88 H/707 M. Selepas dewasa, ia pindah ke Beirut. Untuk menimba dan memerdalam ilmu. Di Kota Beirut itu pulalah tokoh yang menjadi saksi tumbangnya Dinasti Umawiyah dan tegaknya Dinasti ‘Abbasiyah ini berpulang pada 157 H/774 M. Jenazahnya dikebumikan di sebuah tempat yang kini dikenal dengan sebutan Mahallah Al-Auza‘i, Lebanon.

Ulama kondang yang pakar hadis dan fikih itu tiba Baghdad Madinah Al-Salam terlambat. Tentu, karena perjalanan yang iatempuh, antara Beirut dan Baghdad, cukup jauh: sekitar 1.000 kilo meter. Kemudian, ketika ia tiba di Istana Kubah Hijau, Abu Ja‘far Al-Manshur pun segera menyilakan sang ulama duduk. Dan, selepas berbagi sapa sejenak dengan sang tamu, Abu Ja‘far Al-Manshur bertanya kepadanya, “Mengapa Tuan Guru datang terlambat?”

“Tentu Anda tahu, berapa lama perjalanan antara bumi kelahiran saya dan Kota Baghdad ini. Apa sejatinya yang Anda inginkan dari saya, Amir Al-Mukminin?”

“Saya ingin menimba ilmu dan hikmah kepada Tuan Guru!”

“Bila demikian halnya, acaplah merenung, Amir Al-Mukminin! Supaya sesuatu yang saya kemukakan tidak mudah Anda lupakan.”

“Tuan Guru! Bagaimanakah sesuatu yang harapkan dari Tuan Guru akan saya lalaikan? Bukankah karena hal itu pulalah saya hadapkan diri saya kepada Tuan Guru dan Tuan Guru saya datangkan ke sini.”

“Amir Al-Mukminin! Saya khawatir, manakala Anda mendengar nasihat saya, Anda tidak hendak melaksanakannya.”

Mendengar ucapan Al-Auza‘i yang demikian, seorang menteri utama (wazîr) yang hadir saat itu, Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus, tiba-tiba menghunus pedang. Lalu, menteri itu mendekati ulama fikih dan hadis yang tidak mengenal rasa gentar itu. Melihat ulah sang menteri utama, Abu Ja‘far Al-Manshur pun membentakkencang sang menteri, “Al-Rabi‘! Ini adalah tempat mencari pahala. Bukan tempat menjatuhkan siksa dan petaka!”

Selepas mengutip beberapa hadis, Al-Auza‘i kemudian berucap penuh wibawa, “Amir Al-Mukminin! Barang siapa membenci kebenaran, sejatinya ia juga membenci Allah Swt. Allah adalah Mahabenar lagi cukup dalam memberikan penjelasan. Orang-orang sejatinya berusaha meredam gejolak umat terhadap diri Anda, ketika Anda menangani urusan mereka, karena kekerabatan diri Anda dengan Rasulullah Saw. Padahal, beliau amat santun dan kasih terhadap umatbeliau. Beliau menolong mereka dengan diri beliau sendiri dan tangan beliau sendiri. Beliau terpuji dalam pandangan Allah Swt. dan manusia. Karena itu, semestinya Anda juga menegakkan kebenaran terhadap umat. Juga, semestinya Anda bersikap adil terhadap mereka. Menutup aurat mereka. Tidak mengunci gerbang istana terhadap mereka. Juga, tidak mendirikan tembok tebal terhadap mereka dan bergembira dengan kenikmatan yang mereka terima serta berduka cita dengan nasib buruk yang menimpa mereka!

Amir Al-Mukminin! Sejatinya Anda terlalu sibuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan diri Anda sendiri. Anda melalaikan kepentingan rakyat. Padahal, kini, Anda sendirilah yang bertanggung jawab atas diri mereka. Baik yang berkulit putih maupun merah. Muslim maupun non-Muslim. Mereka semua memiliki bagian dari keadilan atas diri Anda. Karena itu, bagaimanakah menurut Anda, andai mereka saling mendukung untuk mengadukan kepada Allah Swt. Perihal petaka yang Anda timpakan atas diri mereka atau kezaliman Anda yang lakukan atas diri mereka!?”

Usai berucap demikian, Al-Auza‘i kemudian berhenti berucap.Beberapa lama. Lantas, ucapnya lebih lanjut, “Amir Al-Mukminin! Sejatinya, hal yang paling berat adalah usaha menegakkan kebenaran. Karena Allah Swt. semata. Sedangkan sesuatu yang paling mulia di sisi Allah adalah takwa. Karena itu, barang siapa menginginkan kemuliaan dengan mematuhi Allah Swt., tentu derajatnya akan ditinggikan dan dimuliakan oleh-Nya. Sebaliknya, barang siapa menginginkan kemuliaan dengan melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya, tentu ia akan dihinakan dan direndahkan oleh-Nya. Inilah nasihat saya kepada Anda.”

Begitu usai berucap demikian, Imam warga Syam itu kemudian berdiri. Melihat hal itu, Abu Ja‘far Al-Manshur bertanya penuh hormat, “Tuan Guru hendak ke mana?”

“Menemui putera saya dan balik ke bumi kelahiran saya. Dengan izin Amir Al-Mukminin, insya Allah.”

“Tuan Guru saya zinkan pergi. Saya ucapkan terima kasih atas nasihat Tuan Guru. Saya terima nasihat Tuan Guru. Kiranya Allah menganugerahkan pertolongan-Nya kepada saya.Dalam usaha menuju kebaikan dan memberikan pertolongan di atas kebaikan. Kepada-Nya saya memohon pertolongan. Kepada-Nya pula saya berserah diri. Cukuplah Dia sebagai penolong saya. Tuan Guru, janganlah saya dibiarkan tanpa perhatian Tuan Guru kepada saya. Seperti saat ini. Sungguh, nasihat Tuan Guru saya terima dengan sepenuh hati. Saya tidak akan merasa ragu terhadap Tuan Guru ketika sedang memberikan nasihat.”

“Akan saya lakukan, insya Allah.”

Abu Ja‘far Al-Manshur kemudian memerintahkan kepada seorang pejabat yang mendampinginya supaya Al-Auza‘i diberi hadiah. Untuk biaya balik ke bumi kelahirannya. Tetapi, penulis sejumlah karya tulis itu, antara lain Kitâb Al-Masâ’il dan Al-Sunan, menolak menerima hadiah itu. Ucapnya tegas, “Saya tidak memerlukan hadiah. Saya tidak menjual nasihat saya dengan harta duniawi!”

Usai berucap demikian, Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Yuhmid Al-Auza‘i pun berlaludari Istana Kubah Hijau dan balik ke Beirut, Lebanon.

*Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close